Komentar-komentar di media massa atas rencana ganti kulit KSOB dan TSSB menjadi SDSB, pada umumnya, bersifat menentang. Namun, agaknya, semua tanggapan itu belum cukup bagi Ibu Menteri Sosial untuk mengambil keputusan: melarang. Peninjauan kembali, memang, yang akhirnya dilakukan. Yakni menarik peredaran KSOB dan TSSB mulai 1 Januari 1989. Tetapi dua permainan judi itu digantikan oleh SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) yang, pada dasarnya, setali tiga uang dengan pendahulunya. Seandainya saja Ibu Menteri Sosial sehari-hari bergaul dengan orang-orang kelas bawah dan pegawai rendahan, Ibu Menteri Sosial akan mengetahui persis, betapa sebenarnya kelompok masyarakat itu sedang "sakit", "tidak waras", bahkan lebih "sinting" dari orang gila. Menteri Sosial akan menyaksikan bagaimana upaya mereka mencari nomor yang akan keluar dengan cara tak masuk akal: menanyai orang kurang waras, pergi ke dukun, mencatat kendaraan yang mengalami musibah (kecelakaan), meramal dengan rumus-rumus tertentu, dan lain-lain. Bagi mereka, KSOB dan TSSB seakan-akan sudah menjadi jalan yang paling mungkin untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Undian-undian itu, bagi mereka, sudah menjadi tumpuan harapan, pengubah nasib. Sementara itu, munculnya SDSB juga tidak akan mengurangi dampak seperti pernah dihasilkan pendahulunya.SILAS HENRY ISMANTO Suryowijayan MJ I/549 Yogyakarta 55142
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini