Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Bertubi-tubinya nirempati penyelenggara negara akan memicu keletihan batin publik.
Keletihan itu bertemu dengan krisis kepercayaan kepada penegak hukum.
Keletihan akibat menahan kejengkelan publik bisa menjadi pemicu kerusuhan sosial.
JIKA hari-hari ke depan meledak kerusuhan di berbagai daerah, siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban? Pertanyaan ini muncul karena, terus terang, saya tidak terlalu ambil pusing dengan sebab-musabab seorang pemuda berumur dua puluh tahun unjuk kenorakan lewat sejumlah tayangan tentang bagaimana ia mengendarai kendaraan-kendaraan mewah. Penjelasan kausalnya gampang: itulah produk pemanjaan berlebihan (over-pampering), baik pemanjaan dari orang tua maupun "pemanjaan" dari otoritas penegakan hukum yang tidak menepati janji pertama Nawacita ānegara hadirā. Ketidakhadiran otoritas penegakan hukum itu terlihat ketika pemuda itu seenaknya ugal-ugalan di jalan tol dan jalan protokol tanpa tertangkap kamera tilang ataupun petugas di lapangan.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo