Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Lingkungan

Hujan Ekstrem Awal Desember Munculkan Air Terjun Dadakan di Bali

Jumlah air terjun dadakan di Gunung Agung lebih banyak dibandingkan yang muncul pada musim-musim hujan sebelumnya. Memikat tapi tidak untuk dinikmati.

10 Desember 2024 | 07.43 WIB

Tangkapan layar air terjun dadakan yang muncul di lereng Gunung Agung, salah satunya pada ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut, akibat hujan lebat di Kabupaten Karangasem, Bali, 9 Desember 2024. ANTARA/Dokumentasi pribadi/Wayan Widi Yasa/Dewa KS Wiguna
Perbesar
Tangkapan layar air terjun dadakan yang muncul di lereng Gunung Agung, salah satunya pada ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut, akibat hujan lebat di Kabupaten Karangasem, Bali, 9 Desember 2024. ANTARA/Dokumentasi pribadi/Wayan Widi Yasa/Dewa KS Wiguna

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Denpasar - Air terjun dadakan muncul di sejumlah titik di Gunung Agung, Karangasem, Bali. Jumlahnya terlihat lebih banyak dibandingkan yang muncul pada musim-musim hujan sebelumnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Di antara yang terlihat kali ini adalah berada di ketinggian sekitar 2.100 meter di atas muka laut, di jalur pendakian Pasar Agung. Aliran air itu berada di jalur-jalur lahar yang saat musim kemarau mengering.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Menurut Koordinator Analisa dan Prakiraan Stasiun Klimatologi Bali, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Made Dwi Wiratmaja, air terjun dadakan karena tingginya volume air akibat hujan lebat. “Derasnya debit air di atas (gunung) sehingga dari jauh terlihat seperti air terjun,” katanya pada Senin, 9 Desember 2024.

Berdasarkan pengamatan cuaca, Dwi menerangkan, memasuki awal Desember 2024 telah terjadi hujan dengan intensitas lebat-sangat lebat di beberapa titik pos pengamatan hujan di Karangasem. Di Pos Hujan Besakih, misalnya, tercatat curah hujan di atas 50 milimeter per hari (kategori hujan lebat) pada 1-3 Desember 2024, dan pada 6 Desember 2024 tercatat curah hujan lebih dari 100 milimeter per hari (kategori sangat lebat).

Pada 6 Desember pula, Pos Pengamatan Hujan Pempatan mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter atau kategori hujan ekstrem. Begitu juga di Pos Pengamatan Hujan di Singaraja, hujan ekstrem terjadi pada 1 dan 4 Desember 2024.

Dwi memperkirakan air terjun dadakan itu muncul karena tanah sudah jenuh menampung air dengan akumulasi air hujan dalam sepekan terakhir. “Sehingga air hujan yang turun menjadi aliran permukaan atau run-off menuju jalur sungai di sekitar Gunung Agung,” kata dia.

Pemandu pendakian Gunung Agung, Wayan Widi Yasa, juga mengungkap kalau sejak beberapa hari terakhir hujan lebat melanda kawasan Gunung Agung. Pemandu asal Dusun Sogra di kaki gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu pun menerima pembatalan sejumlah pemesanan dari beberapa grup wisatawan karena cuaca buruk.

Meski air terjun dadakan menyajikan pemandangan menarik namun, Widi menyatakan, hujan lebat berpotensi menimbulkan risiko karena membuat jalur pendakian menjadi lebih licin, tanah labil, dan mengganggu jarak pandang. "Berisiko,” kata Widi yang juga Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Sebudi, Karangasem.

Ia mengimbau calon pendaki atau pencinta alam untuk berkoordinasi atau menghubungi pemandu lokal yang berada di masing-masing pos pendakian sebelum berencana melakukan pendakian untuk memastikan keamanan dan keselamatan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus