Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
FILM
The Six Triple Eight, Srikandi Melawan Diskriminasi
Film The Six Triple Eight menyajikan perjuangan prajurit perempuan kulit hitam pengantar surat dalam palagan Perang Dunia II. Mayor Adams, Lena, dan ratusan perempuan kulit hitam diterjunkan ke Eropa untuk menuntaskan pekerjaan sirkulasi 17 juta surat. Petinggi militer Amerika Serikat memberi target mereka menuntaskan pekerjaan itu dalam tempo enam bulan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tentu saja pekerjaan Batalion 6888th tak mudah. Mereka harus bekerja dengan peralatan terbatas. Bahkan gudang surat tempat mereka bekerja kurang pencahayaan dan tak punya mesin penghangat, padahal saat itu musim dingin menyerang. Namun tantangan terbesar pasukan 6888th adalah diskriminasi gender dan ras yang mereka terima.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pada masa itu rasisme di Amerika Serikat dan Eropa masih kencang terjadi. Bukan hanya dari masyarakat, tapi juga datang dari internal militer itu sendiri. Bagaimana pasukan ini bisa menuntaskan misinya sekaligus melawan rasisme? Baca selengkapnya di sini.
FOTOGRAFI
Tradisi Nyadran Warga Ngijo
Nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih lekat dalam kehidupan masyarakat Jawa untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal. Tradisi ini juga sebagai ungkapan rasa syukur warga dengan memotong kambing. Sebanyak 45 kambing disembelih, kemudian dimasak secara bergotong royong. Masakan itu lalu dibagikan kepada warga yang hadir.
Di Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, tradisi ini juga masih kental. Setiap Kamis Wage bulan Rajab dalam penanggalan Jawa, masyarakat berkumpul, berdoa, dan menggelar pengajian di kompleks makam Sentono yang merupakan petilasan tokoh ulama setempat, Kiai Haji Asyari. Bagaimana gambaran tradisi ini? Selengkapnya baca di sini.
ESAI
Catatan Puitis Seorang Highlander
Sastra Betawi, paling tidak sastra Betawi mutakhir (kontemporer), tidak pernah jatuh menjadi “sastra Malin Kundang”, yakni sastra yang menampik-menegasikan identitas asal (ibu, tanah air, kampung halaman) seraya mengukuhkan dirinya sebagai sastra yang terbuka terhadap segalanya di luar tradisi tersebut, atau bagian dari identitas barunya.
Identitas Betawi hadir secara mencorong dalam karya-karya memikat, seperti Kisah Pejalan dari Hadrami karya Zeffry, Rumah Kawin-nya Zen Hae, dan Sebelas Colen di Malam Lebaran-nya Chairil Gibran Ramadhan. Karya mereka sangat serius, terkadang surealis, menyentuh wilayah-wilayah mitos, folklor, sejarah, budaya, bahkan politik.
Kali ini, lewat buku Mesigit, Chairil Gibran Ramadhan mengabadikan muhibah sejarahnya dalam rangkaian puisi yang mendekati bentuk sketsa. Seperti apa puisi-puisi tersebut? Baca laporan lengkapnya di sini.
CARI ANGIN
Akal-akalan Mengharmonisasi Pajak
Harga barang kebutuhan pokok sudah keburu naik, padahal pajaknya tidak jadi naik. Baca selengkap di sini.