Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Usai debat cawapres, pada Ahad, 21 Januari 2024, Ganjar Pranowo, calon presiden nomor urut 3, mengunggah sebuah falsafah Jawa di akun X pribadinya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Meskipun Ganjar tidak merujuk pada siapa pun, tetapi di kolom komentarnya banyak warganet yang menduga cuitan itu ditujukan kepada Gibran Rakabuming Raka, cawapres nomor urut 2.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Ojo Adigang, Adigung, Adiguna. Ada yang tahu artinya?” tulis eks Gubernur Jawa Tengah itu dalam cuitannya.
Ungkapan itu diambil dari sebuah falsafah kehidupan masyarakat Jawa. Dilansir dari jurnal berjudul Kearifan Lokal Jawa Sebagai Basis Karakter Kepemimpinan (2013), disebutkan bahwa adigang, adigung, adiguna merupakan sebuah peringatan kepada siapa pun yang memiliki kelebihan untuk tidak bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain, terutama terhadap orang kecil.
Adigang merupakan gambaran watak kijang yang menyombongkan kecepatan larinya. Sementara, adigung merupakan watak kesombongan binatang gajah yang tubuhnya besar. Kemudian, adiguna merupakan gambaran watak ular yang menyombongkan dirinya lantaran memiliki racun atau bisa yang mematikan. Oleh karena itu, ungkapan ini juga berisi nasihat agar seorang pemimpin agar tidak berwatak angkuh atau sombong seperti watak binatang yang tersirat dalam ungkapan ini.
Adigang, adigung, adiguna tertulis dalam kitab Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV, seorang pujangga sekaligus raja Kasunanan Surakarta. Wejangan Pakubuwono IV tersebut disampaikan pada dua bait tembang gambuh sebagai berikut:
Wonten pocapanipun adiguna adigang adigung.
Pan adigang kidang, adigung pan esti, adiguna ula iku.
Telu pisan mati sampyoh.
Si kidang umbagipun ngendelken kebat lumpatipun.
Pan si gajah ngendelken geng ainggil.
Si ula ngandelaken iku mandine kalamun nyakot.
Ada cerita adigang, adigung, adiguna.
Adigang seperti kijang, adigung seperti gajah, adiguna seperti ular.
Ketiganya mati semua.
Kijang sombong mengandalkan kecepatan melompat.
Gajah mengandalkan tinggi besar.
Ular mengandalkan racun bisa saat menggigit.
Dalam tembang tersebut diuraikan bahwa menjadi pemimpin janganlah sombong seperti kijang yang mengandalkan kecepatan berlari, gajah mengandalkan keperkasaan tubuh, dan ular yang mengandalkan bisa racunnya. Untuk menghindari watak adigang, adigung, adiguna, masyarkat Jawa diingatkan oleh ungkapan ojo dumeh atau jangan sombong.
Dalam buku karya Ki Sigit Sapto Nugroho berjudul OJO DUMEH: Menelisik Rahasia Falsafah, Hidup Orang Jawa (2001), dituliskan bahwa ungkapan ojo dumeh mengandung nasihat agar orang tidak lupa diri ketika sedang dalam posisi beruntung.
Ungkapan lainnya disebut juga aja kumingsun yang berarti nasihat agar orang tidak memamerkan kekuasaannya dengan cara merendahkan orang lain.