Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Eks juru bicara Partai Ummat Mustofa Nahrawardaya menyebut penetapan sepihak Ridho Rahmadi sebagai ketua umum tanpa forum legal membuat partainya bercorak partai dinasti. Ridho ditetapkan sebagai ketua umum oleh Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais yang merupakan mertuanya sendiri.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Partai yang diklaim sebagai milik umat, akhirnya jatuh tersungkur pada fakta bahwa ini adalah partai dinasti,” kata Mustofa dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Rabu, 26 Februari 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sosok yang juga pendiri Partai Ummat ini mengatakan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Ummat se-Indonesia mengadakan perkumpulan di Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, 25 Februari 2025. Mereka, kata Mustofa, menyayangkan tidak ada forum pertanggungjawaban dari Ridho sebagai Ketua Umum Partai Ummat periode sebelumnya.
Menurut dia, dalam putusan Majelis Syura No. 06/MS-Partai Ummat/Kpts/KS-II/2025 yang dirilis 16 Februari 2025, Majelis Syura sengaja memberi kekuasaan setinggi-tingginya kepada Ridho Rahmadi. Ketua Umum terpilih itu diberikan wewenang penuh oleh Ketua Majelis Syura untuk menyusun struktur pengurus baru se-Indonesia.
“Maka wajar bila kemudian DPW Partai Ummat seluruh Indonesia menolak putusan itu,” kata Mustofa.
Sebelumnya, 20 DPW Partai Ummat se-Indonesia telah menyerukan penolakannya. Mereka menuangkan sikap dalam bentuk tandatangan demi melawan keputusan yang dinilai cacat prosedur dan menyalahi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai itu.
"Keputusan Majelis Syura Partai Ummat telah merusak tatanan demokrasi dan organisasi partai," kata Ketua DPW Partai Ummat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dwi Kuswantoro, Selasa 18 Februari 2025.
Sebelumnya, Tempo telah mencoba mengkonfirmasi Ridho soal penolakan pengurus atas penetapannya kembali sebagai ketua umum. Namun nomor telepon selulernya tidak aktif dan pesan yang dikirimkan tidak terkirim.
Pribadi Wicaksono berkontribusi dalam artikel ini.
Pilihan Editor: Soal Kabinet Gemuk, Prabowo: Kalau Banyak Orang Hebat, Kenapa?