Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Calon Gubernur Jawa Tengah inkumben Ganjar Pranowo meninggalkan rumah dinasnya yang berada di Puri Gedeh, Jalan Gubernur Budiono. Sebelum pindah ke rumah kontrakan di Jalan Tengger Timur Raya, Ganjar berpamitan dan meminta maaf kepada masyarakat di sekitar rumah dinasnya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Saya kan bukan manusia sempurna, ya. Mereka yang sudah membantu saya, mengerti ketidaksempurnaan itu melekat di diri saya, sehingga kalau ada salah, saya minta maaf," ujar Ganjar di rumah dinasnya, Rabu, 14 Februari 2018.
Baca: Sehari Menjelang Kampanye, Ganjar Pranowo Lantik Penjabat Daerah
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Acara pamitan Ganjar itu dihadiri beberapa kepala dinas Provinsi Jawa Tengah, Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sri Puryono, dan pendukungnya. Saat pidato, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu membaca puisi 'Berpedomanlah pada Cita-cita' karya Soerkarno. Puisi itu memiliki pesan agar masyarakat tidak takut dengan hantu blau atau memaknakan ketakutan.
"Pesannya menggelegar buat mereka yang menjalankan politik. Ini ada ugemannya, ada cita-cita," ujarnya.
Ganjar mengaku sempat akan menitikkan air mata saat pamit dan meminta maaf. "Saya ingat orang tua saya, ya ingat orang tua pokoknya. He-he-he," ujarnya.
Baca: Politikus PPP Ini Yakin Ganjar Pranowo Tidak Menerima Uang E-KTP
Setelah berpamitan, Ganjar bersama istri dan anaknya menuju rumah barunya. Rumah kontrakan yang ditinggali Ganjar bernomor satu, sama seperti nomor urutnya dalam kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018. Ia tak menyangka nomor rumah kontrakan yang disewa Rp 50 juta itu sama dengan nomor urut kampanyenya. "Ini rumah yang paling murah dari empat rumah lain yang sempat saya cari, kebetulan juga nomornya satu juga," ujarnya.