Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara atau TNI AU memiliki Markas Satuan Radar 226 Buraen, Nusa Tenggara Timur.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Satrad 226 Buraen ini merupakan markas pemantauan pertahanan udara yang berada di bawah administrasi Kosek II Makassar. Markas ini telah puluhan tahun menjaga keamanan wilayah selatan Indonesia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Markas Satrad 226 ini terletak di Desa Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Markas pemantau tersebut sudah berdiri melayani pertahanan udara nasional sejak 1999 silam.
Komandan Satrad 226 Letkol Lek Muhammad Sarwo Edi menceritakan awalnya markas Satrad tersebut merupakan pindahan dari markas radar pemantau yang berada di Madiun, Jawa Timur. Ia mengatakan, pemindahan tersebut berkaitan dengan eskalasi politik di Timor Timur- nama Timor Leste sebelum memisahkan diri dengan Indonesia- pada saat itu.
“Kemudian menjelang terjadinya jajak pendapat di Tim-tim , kemudian radar dipindahkan dari Madiun ke Buraen dan itu terjadi di tahun 1999,” ujar Edi pada Senin, 20 Maret 2023 saat ditemui di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pada saat pemindahan lokasi ke Buraen, Edi menerangkan acuannya kala itu adalah posisi menghadap langsung ke samudera yang berbatasan dengan Australia yang kala itu mempunyai kepentingan di Timor Timur . Sehingga, kata dia, posisi tersebut akan memaksimalkan radar untuk memantau wilayah udara yang dimungkinkan datang dari Australia menuju daerah konflik yaitu Timor Timur.
“Pada saat itu kan Tim-tim sekutunya Australia, jadi radarnya ditempatkan disitu agar radar memantaunya clear ke arah datangnya pesawat dari Australia sana,” kata Edi.
Edi menjelaskan pada saat dipindahkan ke Buraen, tempat tersebut masih kosong berupa hutan tanpa ada bangunan. Ia menambahkan di tempat tersebut hanya ada bekas instalasi meriam tentara Jepang pada saat melawan sekutu.
“Jadi dulu personel yang mengawaki radar Buraen hanya menggunakan tenda-tenda untuk berlindung dari dinginnya angin di Buraen. Baru, sekitar tahun 2002-2003 mulai dibangun bangunan markas,” ujar dia.
Selain itu, warga di sekitar pada kala itu sempat menentang keras adanya pendirian markas radar pemantau dekat tempat tinggal mereka. Edi mengatakan berdasarkan cerita pendahulunya warga sekitar sampai melempari batu ke areal markas pemantau tersebut.
“Kalau sekarang kita sudah bisa membaur dengan masyarakat dan masyarakat juga telah menjadi pagar hidup bagi kita,” ujar dia.
Satrad 226 Buraen tersebut memiliki total 53 prajurit TNI AU yang bertugas menjaga dan mengurusi tempat tersebut. Akses menuju tempat tersebut juga terbilang sulit untuk dilalui kendaraan mengingat jalannya sempit dan terjal. Selain itu, markas tersebut memerlukan waktu sekitar dua jam dengan mobil bila ingin sampai di pusat Kota Kupang.
Edi menjelaskan para prajurit biasanya akan menyetok kebutuhan sehari-hari mereka untuk tujuh hari ke depan. Sehingga para prajurit tidak harus bolak-balik ke kota untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Dalam kondisi tertentu misalnya kondisi sedang berkabut satu minggu, kami terkadang harus memanfaatkan alam di sekitar kita untuk bertahan hidup, karena kami memang hidup di hutan belantara,” ujar dia.
Edi mengatakan, mereka merasakan hidup di Buraen itu enaknya hanya 1%, dan yang 99% nya lagi adalah enak sekali. "Karena kami selalu bersyukur apa yang kami jalani," kata dia.