Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Solo - Mantan Presiden Jokowi menanggapi soal namanya yang disebut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam nota keberatan atau eksepsi dalam sidang kasus suap dan perintangan penyidikan pada Jumat, 21 Maret 2025 lalu. Menurut Jokowi, itu adalah hal biasa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu justru mempertanyakan apa gunanya jika saat itu pihaknya harus mengancam agar tidak dipecat dari PDIP.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Diketahui dalam eksepsinya yang dibacakan dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat itu, Hasto menyebutkan dirinya sempat diancam akan ditersangkakan dan ditangkap apabila PDIP memecat Jokowi.
"Ada utusan yang mengaku dari pejabat negara yang meminta agar dia mundur, tidak boleh melakukan pemecatan, atau saya akan ditersangkakan dan ditangkap," kata Hasto dalam persidangan itu.
Menanggapi pernyataan Hasto dalam sidang itu, Jokowi justru mempertanyakan apa untung atau ruginya bagi dirinya jika saat itu pihaknya harus mengancam agar tidak dipecat dari PDIP. "Lha kalau mengancam untuk tidak dipecat itu gunanya apa? Untungnya apa? Ruginya apa?" ucap Jokowi saat ditemui wartawan di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Kamis, 27 Maret 2025.
Menurut Jokowi, dirinya dipecat dari PDIP pun biasa saja. Terkait hal itu, menurut dia bisa dipikirkan dengan logika. "Dipecat juga biasa-biasa saja. Apa coba (untung atau ruginya)? Coba dipikir secara logika," ujar dia.
Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus sebelumnya mengungkapkan sempat ada utusan yang menemui partai sehari sebelum PDIP memutuskan untuk memecat Jokowi sebagai kader. Pernyataan itu disampaikan Deddy dalam konferensi pers di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu, 12 Maret 2025.
Deddy mengatakan utusan tersebut meminta agar PDIP tidak memecat Jokowi, sementara Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto harus mundur. "Sekitar tanggal 14 Desember, itu ada utusan yang menemui kami, memberitahu bahwa Sekjen (Hasto) harus mundur," katanya.
Deddy menyebut utusan tersebut merupakan sosok yang memiliki kewenangan yang kuat. Namun, ia enggan menyebut siapa sosok tersebut.
Amelia Rahima Sari turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.