SETELAH Goenawan Mohamad diganti, saya lihat ada jiwa yang hilang di TEMPO dan digantikan dengan semangat lain yang saya rasa tidak cocok dengannya. Tampaknya, ada semacam industrialisasi TEMPO. Majalah ini menuntut dirinya berkembang seperti majalah asing yang lain. Dan iklan yang ditonjolkan juga cukup banyak, sehingga kadang menghilangkan esensi dari tiap penerbitan.
Saya masih berharap, mungkin di lain waktu, TEMPO akan kembali ke jati dirinya. Saya ingin mendapatkan kembali guru politik, hukum, kriminalitas, dan sosial budaya. Tapi harapan tinggal harapan. Bentuk majalah memang tetap sama seperti dulu, tapi isi dan touch-nya berbeda. Touch kemanusiaan dan bahasa yang indah sudah tidak saya dapatkan lagi. Secara jujur saya marah. Karena saya berprinsip ”satu pacar cukup”, jika Tempo tidak dapat memuaskan saya, saya harus rasional untuk ”memutuskannya”. Salam perpisahan bagi ”guru politik, hukum, sosial budaya”-ku.
ARISAKTI PRIHATWONO (RICO)
Alumni SMA Kolese Loyola Semarang tahun 1995
Jalan Karang Ligu 1225 C, Semarang
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini