Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Kasus Gagal Ginjal 131 Balita, Gambia Juga Bermasalah dengan Obat Asal India

Temuan ratusan anak gagal ginjal secara misterius ini pertama kali dilaporkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

13 Oktober 2022 | 16.45 WIB

Ilustrasi ginjal. thestatesman.com
Perbesar
Ilustrasi ginjal. thestatesman.com

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini di Indonesia tengah ramai dengan kasus gagal ginjal pada 131 balita dengan penyebabnya diduga obat batuk asal India. Temuan ratusan anak gagal ginjal secara misterius ini pertama kali dilaporkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bersamaan di bulan Oktober ini, sebuah negara di Afrika, Gambia, juga mengalami masalah yang mirip. Telah terjadi kematian terhadap 69 anak-anak akibat cedera ginjal akut di Gambia terkait dengan empat sirup obat batuk yang dibuat di India.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Obat tersebut diimpor ke negara Afrika Barat itu melalui perusahaan farmasi yang berbasis di AS, kata polisi Gambia dalam laporan penyelidikan awal. 

Kata WHO

Direktur Kesehatan Gambia Dr. Mustapha Bittaye mengkonfirmasi adanya gelombang kematian anak akibat cedera ginjal akut dan mengirimkan kabar mengejutkan ke seluruh negara berpenduduk 2,4 juta orang itu dan di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB telah mengeluarkan peringatan sebagai tanggapan atas kematian tersebut, dengan mengatakan telah bekerja dengan pemerintah Gambia untuk menyelidiki penyebab kasus dan kematian itu sejak Agustus.

“WHO telah mengeluarkan peringatan produk medis untuk empat obat terkontaminasi yang diidentifikasi di Gambia yang berpotensi terkait dengan cedera ginjal akut dan 66 kematian di antara anak-anak,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu.  “Hilangnya nyawa anak muda sangat menyedihkan bagi keluarga mereka.”

Keempat obat tersebut adalah sirup obat batuk dan pilek yang diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals Limited di India, kata WHO.

Sementara produk yang terkontaminasi sejauh ini hanya terdeteksi di Gambia, obat itu mungkin telah didistribusikan ke negara lain, kata WHO. Badan kesehatan AS mengatakan sedang melakukan penyelidikan dengan perusahaan dan otoritas pengatur di India.

“WHO merekomendasikan semua negara untuk mendeteksi dan menghapus produk ini dari peredaran untuk mencegah bahaya lebih lanjut pada pasien,” katanya.

Bekerja sama dengan Palang Merah Gambia, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan ratusan anak muda untuk mengumpulkan sirup tersangka melalui kampanye dari rumah ke rumah.

Usaha Pencegahan di Indonesia

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra meminta pencegahan peredaran obat yang menjadi terduga penyebab masalah. "Mari cegah (peredaran obat), sampai jelas kajian Kemenkes, BPOM tentang produk obat tersebut. Ini tidak main-main, Kemenkes harus tegas, bila benar obat ini bisa lepas dari pengawasan perizinan dan pengedaran," ujarnya Kamis.

Jasra menyampaikan, KPAI meminta semua industri obat-obatan menghentikan produksinya bila obat berasal dari Indonesia atau izinnya melalui perusahaan obat tertentu. Ia berharap Kementerian Kesehatan segera mengusut tuntas temuan IDAI ini.

"Jangan sampai masih tersebar luas, masih bisa dibeli, menjadi promosi obat, donasi obat, dan sebagainya. Harus segera ada ketegasan dan kejelasan untuk stop dan cegah peredarannya," kata Jasra.

Menuntut Pertanggungjawaban

Selain itu, KPAI menuntut pertanggungjawaban peredaran dan perizinan obat tersebut karena telah terbukti membahayakan anak dan sudah beredar sejak Januari. Jasra juga meminta Kemenkes, BPOM, dan industri obat-obatan Indonesia agar lebih berhati-hati, selektif, agar tidak terulang peristiwa mengenaskan tersebut.

Sampai 10 Oktober 2022, IDAI mencatat ada 131 anak yang mengalami gagal ginjal akut misterius. Data ini terkumpul dari 14 cabang IDAI provinsi. Rata-rata anak berusia di bawah 5 tahun, tetapi ada pula yang berusia belasan.

Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI Eka Laksmi Hidayati menjelaskan, pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi kurang lebih seragam. Mereka mengeluhkan demam, batuk, pilek, diare, muntah, dan volume urine menurun atau tidak buang air kecil sama sekali.

"Anak-anak ini tidak mengalami sakit perut. Anak-anak ini bukan terjadi sumbatan dalam aliran buang air kecil. Tapi memang ginjalnya tidak memproduksi air seni. Kami pasang kateter, itu kering. Kami melihat di USG enggak ada urine, sumbatan," kata Eka.

REUTERS | WASHINGTON POST

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus