Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bandung - Pada musim kemarau, ada peristiwa khusus yang kerap muncul di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Fenomena alam itu embun es atau bun upas. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat tanda-tanda kemunculannya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Embun es punya bahasa lokal bun upas yang artinya menurut penduduk setempat adalah embun racun karena bisa mematikan tanaman yang baru tumbuh. Ketika suhu menjadi dingin atau sejuk, embun yang turun menjadi beku. Masyarakat Jawa juga mengenal perubahan kondisi suhu yang signifikan ini sebagai musim bediding.
Tahun ini kemunculannya unik, yaitu pada 18 Mei 2019 ketika masih musim hujan. Padahal biasanya menurut Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Iis Widya Harmoko, embun es di Dieng muncul pada musim kemarau sekitar Juni hingga Agustus.
Musim kemarau di daerah Wonosobo tahun ini diperkirakan BMKG mulai masuk pada awal Juni.
Peristiwa embun es yang terjadi tahunan ini bisa muncul sekali atau lebih. “Apabila ada penurunan suhu sampai dibawah 15 derajat Celcius, kemungkinan peluang terjadi lagi bun upas akan semakin besar,”katanya, Kamis, 30 Mei 2019.
Pertanda lain yaitu muncul uap di dataran yang berlangsung dini hari hingga menjelang pagi. Saat itu juga tidak ada tutupan awan atau langit bersih.
Pada kondisi seperti itu, energi panas matahari yang ada pada permukaan bumi terlepas langsung ke angkasa sehingga tidak ada pantulan panas yang diserap balik oleh daratan. Akibatnya udara akan bertambah dingin dan embun es bisa muncul akibat pengaruh perubahan suhu yang signifikan itu.
Simak artikel lainnya tentang embun es Dieng di kanal Tekno Tempo.co.
ANWAR SISWADI