Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

Tuyul di fakultas kedokteran

Seminar sehari di fakultas kedokteran ui membahas tentang tenaga dalam, termasuk soal tuyul. untuk memperkenalkan parapsikologi di kalangan medis yang sementara ini masih menerima secara negatif.

1 Agustus 1987 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

KETIKA Ronald Reagan dilantik menjadi anggota Kongres, seseorang yang punya ilmu tenaga dalam memberi saran. Pelantikan itu sebaiknya dilakukan dinihari. Jika bisa dilaksanakan, Reagan dipastikan akan mencapai karier politik yang tertinggi. Reagan percaya dan bahkan setengah mengancam, jika ia tak dilantik pada jam yang dimintanya, lebih baik batal menjadi anggota Kongres. Semuanya dikabulkan. Nah, sejarah mencatat, akhirnya Reagan menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Kalau kisah ini, misalnya, diceritakan Dubes AS, Paul Wolfowitz tentu akan banyak dikutip media massa. Tapi yang menceritakan ini orang kita, Permadi, S.H., yang sehari-hari adalah Ketua Yayasan Parapsikologi Semesta. Tanpa menyebutkan di mana cerita ini dipungut, tentunya Permadi tidak berniat bohong. Pendengarnya adalah kalangan ilmuwan, sebagian besar dokter, dalam suatu seminar Peranan Tenaga Dalam, dalam Kehidupan Manusia yang berlangsung di Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, Ahad lalu. Dengan contoh Reagan itu Permadi mau berkata, ilmu tenaga dalam tak cuma berkaitan dengan kekebalan tubuh, memecahkan balok es dengan sekali tonjok, membengkokkan batang baja, berjalan di bara api, atau mengunyah silet, misalnya. Tenaga dalam adalah ilmu yang bisa dipelajari dengan berbagai cara, dari meditasi dan puasa sampai latihan-latihan pernapasan. Ilmu ini pun dipakai di banyak kegiatan, dari soal-soal perhitungan waktu (pranata mangsa) sampai pengobatan. "Di negara-negara yang telah sangat maju teknologi dan ilmu pengetahuannya, hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan tenaga dalam justru mendapat perhatian yang sungguh-sungguh," ujar Permadi. Dalam dunia kedokteran di Indonesia, terjadi sebaliknya. "Penyembuhan yang menggunakan tenaga dalam mendapat cemoohan dari kelompok intelektual dan dicap sebagai perdukunan dengan konotasi negatif. Bahkan para dokter yang meyakini metode holistik (perdukunan) dapat dipadukan dengan metode medis, oleh sejawatnya dikenai tindakan administratif dan dikucilkan," tutur Permadi. Dr. Alex J. Hukom, yang bersama Permadi menyampaikan makalah, juga menyatakan keheranannya bahwa ilmu tenaga dalam di Indonesia oleh kalangan medis diterima dengan serba negatif. "Ada baiknya jika sejawatku para dokter merenungkan, apa sebabnya kita menjumpai ada dukun dengan praktek yang lebih ramai dari dokter ahli," kata Hukom, psikiater dan neurolog ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya menangani pasien, Hukom sampai pada keyakinan, "Pengetahuan kedokteran Barat semata-mata sering tidak memadai, apalagi dalam bidang psikiatri. Telah lama, pengetahuan kedokteran saya lebih banyak digunakan sebagai unsur penyokong dalam terapi," katanya. Cuma tidak dijelaskan, bagaimana tenaga dalam itu digunakan dalam praktek menolong pasien. A.J. Hukom, 63 tahun, banyak memantau kegiatan para ahli medis luar negeri yang mengadakan berbagai eksperimen tenaga dalam untuk kepentingan pengobatan. Dari perbandingan ini ia menyebutkan, di Indonesia sebenarnya banyak hal yang bisa diteliti dan kemudian dicoba untuk dikembangkan. Dan ilmu ini pun bisa dipelajari. "Yang perlu diingat, tenaga dalam hanya dapat disaksikan dari akibat yang ditimbulkannya, sedang usaha untuk memperoleh suatu bukti kongkret masih perlu penelitian lebih lanjut. Dalam hal ini, penelitian parapsikologi memegang peranan penting. Sayangnya, di kalangan dunia kedokteran, Yayasan Parapsikologi Semesta, yang tersebar melalui cabangcabangnya di berbagai kota, belum begitu dikenal," kata Hukom. Seminar sehari yang membicarakan tenaga dalam ini -- kabarnya yang pertama di Indonesia -- juga dalam upaya memperkenalkan parapsikologi di kalangan dokter. Yang dibicarakan pun jangkauannya teramat luas, sampai ke masalah tuyul. Permadi, siapa lagi, setelah menyinggung penggunaan tenaga dalam di berbagai peralatan perang di negara-negara maju -- tanpa menyebut sumbernya -- merasa tak enak kalau melupakan tuyul. "Sebagai ilmuwan, kenapa kita tidak mengajari tuyul itu mencuri dokumen? Dalam negosiasi dengan tuyul, manusia, sebagai makhluk yang lebih sempurna dari tuyul, jangan mau mengalah. Kita bisa mengajukan syarat lain, bukan anak kita yang mati, tetapi diganti kerbau," ujar Permadi. Tokoh paranormal ini membicarakan negosiasi tuyul dalam kaitan perang intelijen. Lalu Permadi menambahkan, "Ini kemungkinan-kemungkinannya kalau kita mau berpikir secara ilmiah dan tidak didasarkan praduga buruk bahwa tuyul itu setan." Pada penutupan seminar, diperagakan ilmu tenaga dalam oleh Perguruan Hipnotis dan Telepati pimpinan Prof. Max Daniel. Ada pemuda yang makan silet, ada yang tidur di atas paku runcing lalu ditindih bata dan dipukul dengan palu. Kemudian pemuda itu lompat-lompat di atas paku. Tak ada yang luka. Max Daniel sendiri berjalan di atas bara api, tanpa terbakar. Para ilmuwan dan mahasiswa yang menghadiri seminar itu tampak kagum. Perlu ditunggu, setelah para ilmuwan itu diperkenalkan pada ilmu ini, berikut peragaannya, adakah mereka tergerak untuk meneliti, kenapa kulit tak luka benda tajam, kenapa api tak membakar kulit ari, secara ilmiah. Putu Setia

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus