Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Masa kecil yang dimiliki Christopher Robin boleh dibilang cukup beruntung. Ia menikmati masa berkawan dengan sekelompok boneka hewan yang hidup dalam imajinasinya. Seorang beruang madu Pooh, harimau yang gemar loncat Tiger, Piglet yang selalu cemas dan takut, atau keledai seperti Eeyore yang cenderung depresi, sulit untuk bahagia. Ada juga sosok yang lebih bijak dan teratur seperti Rabbit, Kanga Ibu kanguru yang sangat protektif, dan Roo si kanguru yang juga takbisa lepas dari ibunya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sosok-sosok hewan ini mengisi sisi kekosongan Christopher Robin di masa kecilnya. Beralih dewasa, terutama setelah kematian orang tuanya, ia dihadapkan pada kondisi yang bertolak belakang. Realitas hidup yang tak bisa dihindari. Kesenangan ia bersama para sahabatnya di Deep in the Hundred Acre Woods pun sirna.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Film Christopher Robin (Disney)
Dalam film Christopher Robin ini, Greg Brooker and Mark Steven Johnson menggambarkan kehidupan Christopher dewasa: menikah, punya anak, dan sibuk dengan pekerjaannya. Christopher dihadapkan pada kondisi keuangan buruk di perusahaan koper tempat ia bekerja. Ia pun jungkir balik memikirkan cara agar angaran bisa ramping namun menjaga karyawannya tidak dipecat.
Kesibukan itu membuat dirinya agak kedodoran untuk memberi perhatian kepada anak dan istrinya, Madeline (Bronte Carmichael) dan Evelyn Robin (Hayley Atwell). Christopher nyaris putus asa dengan kondisi yang sedang ia hadapi. Dalam waktu bersamaan, Pooh melintasi rumah pohon yang menjadi pintu penghubung dunianya dengan dunia luar. Singkat cerita ia kembali dipertemukan dengan Christopher dengan wajah penuh masalah.
Pertemuan tersebut nampak menjadi katarsis bagi Christopher yang selama ini seolah sudah tak memberi jeda untuk menikmati sesuatu dalam hidupnya. Pengalaman menjadi serdadu perang cukup memberi dampak panjang dalam hidupnya. “I’ve cacked,” tutur Robin kepada Pooh etelah sekian lama tak bersua. Dan jawaban beruang ebrkaus merah itu “Oh, I don’t see any cracks. A few wrinkles, maybe.” Tetap polos.
Namun itulah Pooh, kehadirannya di hadapan Robin kini untuk membantu pria dewasa itu mengoleksi kembali memori masa kecil, membangun imajinasi yang bisanya kerap luntur dari jiwa orang dewasa yang larut dalam kesibukan mereka.
Berangkat dari karya A.A Milne yang terinspirasi dari kisah anak lelakinya dilengkapi ilustrasi W.H Shepard, tafsir Christopher Robin dan Winnie The Pooh kian meluas. Di film ini misalnya, tak berkutat lagi dalam ruang Robin kecil dan keseruannya bermain dan berimajinasi di Hundred Acre Woods. Tahun lalu, Good Bye Christopher Robin (Simon Curtis, 2017) dirilis dan lebih condong mengisahkan bagaimana kisah Christopher Robin bersama Pooh dan kawan-kawan lahir. Meski berbeda arahan dan produksi, kehadiran film ini seolah melanjutkan kisah Robin kala dewasa.
Christopher Robin Film (YouTube)
Kembalinya Christopher Robin menemukan bagian yang hilang dalam dirinya di film ini, rupanya membantu ia untuk memperbaiki banyak hal, menemukan cara lain lebih jernih untuk juga menjaga keberlangsungan nadi karyawan di tempat ia bekerja. Semua itu berkat Pooh yang hadir tepat waktu.
Christopher Robin (2018)
Sutradara: Marc Forster
Penulis naskah: Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder
Produser: Brigham Taylor, Kristin Burr
Produksi: Walt Disney
Durasi: 104 menit