Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tuhan telah menganugerahi dua mata buat sutradara, satu untuk melihat kamera, satunya lagi untuk menangkap sinyal segala peristiwa yang bertebaran di masyarakat. Andrzej Wajda beruntung memiliki keduanya. "Bapak Perfilman Modern Polandia" itu mampu membuktikan eksistensinya dengan mengarungi dunia perfilman selama separuh abad. Karena kesetiaannya, Wajda dianugerahi Lifetime Achievement Award dalam penghargaan Piala Oscar tahun 2000.
Menikmati Wajda lewat karya filmnya bak membaca babad evolusi politik dan sosial Polandia pasca-Perang Dunia II. Sensitif, bergairah, dan penuh pergolakan. Coba tengok debut pertamanya dalam "film sekolahan" A Generation (1954). Ini film pertama dari trilogi Perang Dunia II yang terkenal, disusul Kanal (1956) dan Ashes and Diamond (1958).
Pokolenie atau A Generation memotret pergerakan kaum buruh kota Warsawa, ibu kota Polandia, di bawah pendudukan Nazi Jerman. Stachdiperankan Tadeusz Lomnickitertarik kelompok pemberontak buruh tambang berhaluan kiri. Bergabung, dan akhirnya jatuh cinta pada Dorotadimainkan Urszula Modrzynska pemimpin kaum pemberontak. Film ini memang memberikan sejumlah konsesi pada rezim penguasa komunis Rusia di Polandia. Ada gambar yang terpaksa disensor, hanya demi memberikan gambaran lain tentang perjuangan kaum komunis mengentaskan kelompok Yahudi dari penindasan.
Roman Polanski, aktor dan peraih Oscar untuk film The Pianist, terlibat dalam film perdana ini. "Bagi kami, ini mahadahsyat. Semua film Polandia bermula dari sini," kata Polanski. Entah karena kepincut cara kerja dan hasil karya Wajda, Polanski pun belakangan sekolah di Lodzsekolah film kenamaan saat itu. Salah satu alumninya, ya, Wajda itu.
Kanalberarti terowongan atau selokan bawah tanahdirilis pada 1956. Kali ini, dia menampilkan Tentara Tanah Air (Home Army) yang berhaluan nasionalis sebagai lakonnya. Di Polandia saat itu, ada dua kelompok pejuang: komunis dan nasionalis. Kelompok nasionalis berkolaborasi dengan aliansi demokrasi barat (sekutu) anti-Jerman, yang memimpin pergerakan dari pengasingan.
Gambar dibuka dengan Kota Warsawa yang luluh-lantak akibat bombardir tentara Jerman. Sejumlah 43 gerilyawan terpojok di salah satu markas persembunyian. Alih-alih diperintahkan mundur saat terdesak, mereka malah diminta menyerbu pusat kota dengan melalui selokan bawah tanah. Sesampai di kanal, petualangan buruk justru baru dimulai. Mereka kesasar, terpencar, ada yang tertangkap serdadu Nazi karena salah pintu keluar, teronggok lemas akibat luka dan kelaparan, atau mati mengenaskan terkena jebakan granat.
Kritikus film Frank Bren menyebut kisah ini layaknya tragedi Yunani di abad modern. Lara itu terus menggerus perasaan lewat film ketiga triloginya, Ashes and Diamond. Tokoh antihero Maciekdiperankan dengan apik oleh aktor Zbigniew Cybulskiini juga harus menemui ajal setelah menembak mati sekretaris distrik Partai Komunis. Kaum komunis digambarkan suka pesta dan mabuk-mabukan. Gara-gara ini, peredarannya sempat tertunda karena dianggap subversif. Bahkan penguasa marah besar tatkala film itu diselundupkan dan diputar di festival film di Venesia.
Serdadu, perang, pergerakan, dan kesenian sungguh begitu mengakrabi Andrzej Wajda. Lotna (1959), Samson (1961), Ashes (1965), dan Dr. Korczak (1990), semuanya bertema perang. Ada pula yang setelah perang berakhir, semisal Landscape after a Battle (1970). Meski ia menyuguhkan variasi fase kehidupan dan karakter tokoh di berbagai situasi, semua teraksentuasi pada unsur psikologi. Seolah mencibir semangat kepahlawanan dan eksistensi individu yang timbul akibat kekejaman perang.
Setelah runtuhnya rezim komunis pada 1989, sang sutradara terpilih menjadi anggota parlemen di bawah kepemimpinan Walesa. Toh, ia tetap berkarya dengan kritis. Pada 1990 ia merilis Korczak, kisah dokter anak yang gagal mencegah pembantaian 200 anak. Simbol bungkamnya banyak tokoh saat pembunuhan massal terjadi di Warsawa.
Wajda banyak membuat film dengan tema gerakan sosial. Tapi, sebagai pengawal evolusi Polandia dan anak negeri selama lima dekade, Wajda paham betul perubahan zaman. Film Miss Nobody (1996), yang mengkritik situasi sosial saat itu, dilansir. Ia lebih sebagai perenungan dan kritik paling dalam terhadap masyarakat materialis dan individualis. Inilah potret Polandia pasca-komunis.
Rommy Fibri
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo