BERCOCOK TANAM SECARA HIDROPONIK Oleh: Slamet Soeseno Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1985, 150 halaman KETIKA lahan kian menyempit, bagaimana kita bisa tetap dekat dengan kembang dan kehijauan? Jawabnya, bercocok tanamlah dengan sistem hidroponik. Ini cara bercocok tanam modern, yang tak memerlukan tanah sebagai medianya. Dengan cara yang sistematis dan terukur, tanaman bisa ditumbuhkan di atas media seperti air, pasir, kerikil, pecahan genting, atau kerikil sintetis. Selain tidak kotor, sistem ini memberi keuntungan lain, yaitu: tanaman bisa lebih subur dan kelihatan indah. Dan buahnya bisa lebih besar ketimbang yang ditanam di tanah. Kuncinya, tumbuhan itu harus mendapat makanan - berupa larutan pupuk dan mineral - secara cukup. Hidroponik kini kian populer. Terutama di kalangan orang kota yang mempunyai kegemaran bertani, baik sebagai hobi maupun yang mulai berpikir untuk tujuan komersial. Untuk petani kota semacam itulah, Slamet Soeseno menulis buku ini. Maka, yang ditulis pun bukan sekadar masalah teknis bagaimana cara berhidroponik. Disinggung pula bahwa bercocok tanam tanpa tanah itu mempunyai sejarah cukup panjang. Yang mula-mula mencoba - dengan media air - adalah orang Aztek di Amerika Tengah pada abad XV. WF Gericke dan kemudian WA Setchell dari Universitas California, AS. Penulis karangan ilmiah populer yang sudah tak asing ini, seperti biasa, mengutarakan segala sesuatunya dengan bahasa yang lancar dan terjaga. Ia sampai menyempatkan diri pergi ke Kem Farm, kebun hidroponik milik Bob Sadino - pemilik toko serba ada yang cukup beken di Jakarta - untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas. Surasono
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini