Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menunda konferensi pers terkait respons pemerintah terhadap kebijakan tarif impor Amerika Serikat. Sebelumnya Airlangga dijadwalkan memberikan pernyataan bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hari ini, Kamis, 3 April 2025 Pukul 10.45 WIB.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam undangan yang disebarkan kepada media, dua menteri Kabinet Presiden Prabowo Subianto tersebut menjadi narasumber bersama Menteri Perdagangan, Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Industri. Namun pemaparan ditunda dan akan dijadwalkan kembali.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Kebijakan Tarif AS tersebut sangat teknis dengan beragam komoditas. Sehingga masih memerlukan pembahasan secara komprehensif di tataran masing-masing K/L (kementerian dan lembaga),” demikian dipaparkan Biro Komunikasi Kemnterian Koordinator Perekonomian.
Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai respons pemerintah sangat dibutuhkan, namun tak boleh terburu-buru. “Harus tepat sasaran dan terukur. Menjawab permasalahan saat ini dan mengantisipasi permasalahan ke depan, tanpa membuat marah pihak lain, khususnya AS atau Trump,” ucapnya saat dihubungi Kamis, 3 April 2025.
Idealnya, kata Wijayanto, konferensi pers dilakukan pemerintah dengan melibatkan lembaga lainnya yakni Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan dan Otoritas Jasa Keuangan. “Yang menyampaikan harus orang yang paham ekonomi hingga detail dan teknis,” ucapnya.
Selain itu, ia berpesan pemerintah bisa terbuka dan menjawab seluruh jawaban media dengan baik dan tak menyembunyikan fakta. Karena dapat berdampak buruk dan membuat pemerintah tidak kredibel. “Permasalahan dan tantangan diakui, tetapi solusi dan antisipasi sudah disiapkan.”
Seperti diketahui, pada 2 April 2025 Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor yang disebutnya sebagai timbal balik atau ‘Reciprocal Tarrifs.’ Trump mengenakan tarif dasar paling rendah 10 persen untuk semua barang impor yang masuk ke AS.
Selain itu sejumlah negara dikenakan bea impor tambahan yang disebut tarif balasan. Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen.
Sejumlah petinggi negara-negara telah mengeluarkan pernyataan. Cina dikabarkan menyiapkan kebijakan tarif balasan. Kementerian Perdagangan Cina mendesak Trump menghapus tarif sepihak dan berdialog. “Tidak ada pemenang dalam perang dagang, dan proteksionisme tidak akan membawa hasil,” ucap juru bicara kementerian seperti dikutip dari Xinhua dan The Guardian, Kamis, 3 April 2025.
Uni Eropa masih akan melakukan negosiasi dengan AS. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa siap mengambil langkah tegas jika negosiasi tak mencapai titik temu. “Kami sekarang sedang mempersiapkan tindakan balasan lebih lanjut, untuk melindungi kepentingan dan bisnis kami jika negosiasi gagal,” ucapnya lewat pernyataan di laman resmi Komisi Eropa.