Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Kemendag Sebut Indomie yang Mengandung Zat Pemicu Kanker di Taiwan Diimpor oleh Diaspora Indonesia

Produk Indomie yang dibawa oleh para diaspora Indonesia ke Taiwan sama dengan yang dijual di Tanah Air.

4 Mei 2023 | 13.19 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Indomie rasa Ayam Spesial yang dilarang Beredar di Taiwan. Istimimewa

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi mengatakan Indomie yang diduga mengandung zat pemicu kanker di Taiwan memang berasal dari Indonesia. Menurutnya, produk itu bukan diekspor dari distributor resmi melainkan dibawa oleh para diaspora Indonesia.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Didi mengaku telah mengkonfirmasi hal tersebut dari produsen dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. Pertemuan itu dikhususkan untuk menyelidiki kandungan etilen oksida yang dinilai otoritas Taiwan melebihi standar kesehatan yaitu 0,187 mg/kg (ppm).

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Kalau dari yang resmi itu enggak ada masalah. Nah yang masalah itu yang diimpor oleh individu-individu diaspora kita itu kan banyak," kata dia saat ditemui Tempo di kantornya, Jakarta Pusat pada Kamis, 4 Mei 2023. 

Ia menjelaskan produk yang dibawa oleh para diaspora itu sama dengan yang dijual di Tanah Air. Sehingga, hanya memenuhi standar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Sedangkan produk yang berasal dari distributor resmi sudah disesuaikan dengan negara tujuan ekspornya.  

Sedangkan produk yang diekspor dari Indonesia melalui distributor resmi, seluruhnya sudah disesuaikan dengan syarat-syarat yang diminta oleh Taiwan. Termasuk penyesuaian standar kandungan etilen oksida yang memicu kanker ini. 

Kasus serupa, menurut Didi, sering terjadi karena badan internasional telah memberi wewenang kepada setiap negara untuk menentukan sendiri standar kandungan dalam makanan dan minuman yang beredar. Sehingga, kata dia, antara Indonesia, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Korea wajar apabila memiliki standar yang berbeda, 

Di sisi lain, Didi meniali ekspor tidak resmi ini wajar terjadi mengingat diaspora Indonesia di Taiwan hampir mencapai 300 ribu orang. "Jadi kami tidak menyalahkan mereka, ya memang bisa membawa masuk kadang-kadang kan dengan tentengan tangan," ucapnya. 

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.

Riani Sanusi Putri

Riani Sanusi Putri

Reporter di Tempo

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus