SETELAH bertahun-tahun hanya menjadi ucapan kosong yang seririg
diulang, rencana penciutan jumlah merk mobil di Indonesia bakal
dilaksanakan juga. Awal Februari lalu, dalam rapat kerja dengan
Komisi VI DPR, Menteri Perindustrian A.R. Soehoed menegaskan
niat departemennya untuk menciutkan industri perakitan dan agen
tunggal mobil menjadi 6 atau 7 kelompok saja. Untuk sementara
Indonesia diperkirakan cukup dengan 6 merk kendaraan niaga dan 4
merk sedan. Komisi VI DPR setuju sepenuhnya.
Rencana ini agaknya akan mengakhiri julukan Indonesia surga bagi
semua merk mobil. Hampir semua merk mobil terkenal memang bisa
ditemui di sini -- beberapa di antaranya malahan yang pabriknya
telah lama ditutup. Pada 1969 hanya ada 5 industri perakitan dan
8 importir mobil. Sepuluh tahun kemudian jumlah ini telah
beranak pinak menjadi 35 agen tunggal dan 30 perakitan yang
menghasilkan 32 merk dengan 90 tipe mobil.
Ada industri perakitan yang kakap seperti Mitsubishi yang
menghasilkan sampai 36.000 unit setahun. Tapi lebih banyak lagi
yang kelas teri seperti Simca yang tahun lalu hanya laku 1
(satu) saja. Beberapa merk seperti DAF, MAN, Subaru, IH
(International Harvester) malahan sejak 1979 sudah "hilang" dari
daftar penjualan.
Keadaan ini jelas tidak menguntungkan. Harga mobil menjadi
mahal. Pembakuan suku cadang dan perlengkapan mobil -- dalam
usaha mencapai pembuatan mobil penuh di dalam negeri pada 1984
-- sulit dilaksanakan, hingga ketergantungan pada luar negeri
berlanjut terus. "Situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan
berkembang terus karena akan merugikan semua pihak," ucap
Soehoed. Departemen Perindustrian telah memulai langkah
penciutan ini, sejak awal 1980 dengan menghentikan izin bagi
impor CKD (completely klocked-down) merk baru, sedang merk dan
tipe yang jelas tidak mempunyai pasaran dihentikan pemasukannya.
Kalangan permobilan umumnya menyambut gembira rencana ini. Walau
menganggap rencana penciutan ini "sudah terlambat", H.M. Thaib
Affan, Direktur Utama Indokaya Nissan Motors berpendapat:
"Penciutan ini sudah sangat mendesak dan tidak bisa diserahkan
pada alam."
Ibnu Sutowo
Dengan berkurangnya merk, menurut Thaib, volume produksi
masing-masing merk akan bisa meningkat hingga harga lebih murah.
Perpindahan teknologi bisa lebih lancar. Pasaran mobil di
Indonesia yang saat ini 93% dikuasai Jepang juga dianggapnya tak
sehat dilihat dari segi ketahanan nasional.
Bagi Thaib tak menjadi soal apakah dengan penciutan itu,
industri mobil akan digabung menjadi 6 atau 10 kelompok. Sebab
merk yang diageninya: Datsun, saat ini termasuk nomor 4 setelah
Mitsubishi, Toyota dan Daihatsu. Namun ia setuju dengan pendapat
Komisi VI DPR agar dalam pengelompokan ini harus diusahakan agar
perusahaan pribumi terhindar dari gulung tikar. Dianjurkannya
agar digunakan sistem multi sourcing, merakit mobil dengan
komponen dari manca negara, seperti digunakan Korea Selatan,
India dan Mesir. Harga komponen bisa lebih rendah dan pengalihan
teknologi bisa lebih cepat.
"Saya setuju merk mobil dewasa ini diciutkan," kata Sofyan
Wanandi, Direktur Utama PT Garuda Mataram Motors, agen tunggal
Volkswagen. Di Indonesia VW menempati urutan ke 8 dalam jumlah
pemasaran setelah Mitsubishi royota, Daihatsu, Datsun, Honda,
Suzuki dan Mercedes Benz. Nomor 9 dan 10 adalah Isuzu dan Ford.
Sofyan yang tiap harinya lebih suka naik Mercedes putih setuju
penciutan ini akan memperpendek jalan menuju industri
pembikinan mobil Indonesia. "Namun dalam pelaksanaannya jangan
dipaksakan secara drastis. Harus fleksibel dan persuasif,"
ujarnya. "Kalau dipaksakan bakal terjadi banyak pengangguran."
Lagipula, menurut Sofyan, banyaknya merk mobil yang berseliweran
dewasa ini bukan karena kesalahan para pengusaha saja, tapi
karena diberi kesempatan pemerintah. Jika dipaksakan banyak
perakitan yang akan menjadi besi tua, padahal semua itu termasuk
kekayaan nasional. Untuk menghindarinya, pengelompokan menjadi 6
kelompok dianggapnya wajar, antara lain berdasar kesamaan
pemegang saham. "VW sendiri akan masuk kelompok German Motors
bersama Mercedes," ujar Sofyan.
German Motors diketahui termasuk kelompok 5 besar industri mobil
Indonesia yang dikenal sebagai kelompok Ibnu Sutowo. Bagaimana
dengan merk lain? Menurut kalangan permobilan, ke dalam kelompok
Astra yang selama ini mengageni Toyota dan Daihatsu bisa
dimasukkan Alfa Romeo, Renault dan Peugeot. Alasannya karena PT
Multi France Motor yang bernaung di bawah Multivest dan
mengageni Peugeot dan Renault sebagian sahamnya dimiliki Willem
Soerjadjaja yang memimpin PT Astra.
Tahun lalu 18 industri perakitan Indonesia menghasilkan sekitar
91.000 kendaraan roda 4, suatu penurunan dibanding 108.667 unit
yang dihasilkan pada 1978. Sekitar tiga perempat dari jumlah itu
berupa kendaraan niaga.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini