Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ekonomi

Berita Tempo Plus

Menciut, Untuk Memperpendek Jalan

Departemen perindutrian berniat menciuntukan indusri perakitan dan agen tunggal mobil. mencegah monopoli industri besar dan harga yang terus menaik. industriawan mobil setuju dengan ide tersebut. (eb)

23 Februari 1980 | 00.00 WIB

Menciut, Untuk Memperpendek Jalan
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SETELAH bertahun-tahun hanya menjadi ucapan kosong yang seririg diulang, rencana penciutan jumlah merk mobil di Indonesia bakal dilaksanakan juga. Awal Februari lalu, dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Menteri Perindustrian A.R. Soehoed menegaskan niat departemennya untuk menciutkan industri perakitan dan agen tunggal mobil menjadi 6 atau 7 kelompok saja. Untuk sementara Indonesia diperkirakan cukup dengan 6 merk kendaraan niaga dan 4 merk sedan. Komisi VI DPR setuju sepenuhnya. Rencana ini agaknya akan mengakhiri julukan Indonesia surga bagi semua merk mobil. Hampir semua merk mobil terkenal memang bisa ditemui di sini -- beberapa di antaranya malahan yang pabriknya telah lama ditutup. Pada 1969 hanya ada 5 industri perakitan dan 8 importir mobil. Sepuluh tahun kemudian jumlah ini telah beranak pinak menjadi 35 agen tunggal dan 30 perakitan yang menghasilkan 32 merk dengan 90 tipe mobil. Ada industri perakitan yang kakap seperti Mitsubishi yang menghasilkan sampai 36.000 unit setahun. Tapi lebih banyak lagi yang kelas teri seperti Simca yang tahun lalu hanya laku 1 (satu) saja. Beberapa merk seperti DAF, MAN, Subaru, IH (International Harvester) malahan sejak 1979 sudah "hilang" dari daftar penjualan. Keadaan ini jelas tidak menguntungkan. Harga mobil menjadi mahal. Pembakuan suku cadang dan perlengkapan mobil -- dalam usaha mencapai pembuatan mobil penuh di dalam negeri pada 1984 -- sulit dilaksanakan, hingga ketergantungan pada luar negeri berlanjut terus. "Situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan berkembang terus karena akan merugikan semua pihak," ucap Soehoed. Departemen Perindustrian telah memulai langkah penciutan ini, sejak awal 1980 dengan menghentikan izin bagi impor CKD (completely klocked-down) merk baru, sedang merk dan tipe yang jelas tidak mempunyai pasaran dihentikan pemasukannya. Kalangan permobilan umumnya menyambut gembira rencana ini. Walau menganggap rencana penciutan ini "sudah terlambat", H.M. Thaib Affan, Direktur Utama Indokaya Nissan Motors berpendapat: "Penciutan ini sudah sangat mendesak dan tidak bisa diserahkan pada alam." Ibnu Sutowo Dengan berkurangnya merk, menurut Thaib, volume produksi masing-masing merk akan bisa meningkat hingga harga lebih murah. Perpindahan teknologi bisa lebih lancar. Pasaran mobil di Indonesia yang saat ini 93% dikuasai Jepang juga dianggapnya tak sehat dilihat dari segi ketahanan nasional. Bagi Thaib tak menjadi soal apakah dengan penciutan itu, industri mobil akan digabung menjadi 6 atau 10 kelompok. Sebab merk yang diageninya: Datsun, saat ini termasuk nomor 4 setelah Mitsubishi, Toyota dan Daihatsu. Namun ia setuju dengan pendapat Komisi VI DPR agar dalam pengelompokan ini harus diusahakan agar perusahaan pribumi terhindar dari gulung tikar. Dianjurkannya agar digunakan sistem multi sourcing, merakit mobil dengan komponen dari manca negara, seperti digunakan Korea Selatan, India dan Mesir. Harga komponen bisa lebih rendah dan pengalihan teknologi bisa lebih cepat. "Saya setuju merk mobil dewasa ini diciutkan," kata Sofyan Wanandi, Direktur Utama PT Garuda Mataram Motors, agen tunggal Volkswagen. Di Indonesia VW menempati urutan ke 8 dalam jumlah pemasaran setelah Mitsubishi royota, Daihatsu, Datsun, Honda, Suzuki dan Mercedes Benz. Nomor 9 dan 10 adalah Isuzu dan Ford. Sofyan yang tiap harinya lebih suka naik Mercedes putih setuju penciutan ini akan memperpendek jalan menuju industri pembikinan mobil Indonesia. "Namun dalam pelaksanaannya jangan dipaksakan secara drastis. Harus fleksibel dan persuasif," ujarnya. "Kalau dipaksakan bakal terjadi banyak pengangguran." Lagipula, menurut Sofyan, banyaknya merk mobil yang berseliweran dewasa ini bukan karena kesalahan para pengusaha saja, tapi karena diberi kesempatan pemerintah. Jika dipaksakan banyak perakitan yang akan menjadi besi tua, padahal semua itu termasuk kekayaan nasional. Untuk menghindarinya, pengelompokan menjadi 6 kelompok dianggapnya wajar, antara lain berdasar kesamaan pemegang saham. "VW sendiri akan masuk kelompok German Motors bersama Mercedes," ujar Sofyan. German Motors diketahui termasuk kelompok 5 besar industri mobil Indonesia yang dikenal sebagai kelompok Ibnu Sutowo. Bagaimana dengan merk lain? Menurut kalangan permobilan, ke dalam kelompok Astra yang selama ini mengageni Toyota dan Daihatsu bisa dimasukkan Alfa Romeo, Renault dan Peugeot. Alasannya karena PT Multi France Motor yang bernaung di bawah Multivest dan mengageni Peugeot dan Renault sebagian sahamnya dimiliki Willem Soerjadjaja yang memimpin PT Astra. Tahun lalu 18 industri perakitan Indonesia menghasilkan sekitar 91.000 kendaraan roda 4, suatu penurunan dibanding 108.667 unit yang dihasilkan pada 1978. Sekitar tiga perempat dari jumlah itu berupa kendaraan niaga.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus