Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
INDUSTRI PENERBANGAN
Ribuan Penumpang Lion Telantar
RIBUAN penumpang Lion Air telantar di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang. Mereka menjadi korban penundaan penerbangan pada Rabu dan Kamis, 18-19 Februari 2015. Penyebabnya, dua pesawat maskapai berlogo singa merah ini rusak terkena benda asing—diduga burung—di Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut Direktur Umum Lion Air Edward Sirait, dua pesawat tersebut seharusnya melayani delapan penerbangan. Tapi kerusakan membuat sejumlah penerbangan tertunda lebih dari empat jam dan mengacaukan jadwal penerbangan Lion Air. "Seperti mata rantai, kalau satu rantai saja putus, kacau semua," kata Edward, Kamis pekan lalu.
Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Muhammad Alwi menambahkan, pada saat yang sama, beberapa pesawat milik Lion sedang dalam inspeksi besar. Padahal maskapai menambah jadwal penerbangan pada musim libur tahun baru Imlek. Kementerian Perhubungan akan menerbitkan aturan yang mewajibkan semua maskapai penerbangan berjadwal menyiapkan pesawat cadangan.
SUKU BUNGA
BI Rate Turun
RAPAT Dewan Gubernur Bank Indonesia, Selasa pekan lalu, memutuskan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis point. BI Rate yang sejak November 2014 berada di level 7,75 persen turun menjadi 7,5.
Bank sentral menetapkan suku bunga lending facility tetap 8 persen, sedangkan deposit facility turun 25 basis point menjadi 5,5 persen. BI meyakini inflasi akan terkendali dan stabil mengarah di bawah 4 persen. "Disetujuinya APBN Perubahan 2015 dengan paket stimulus fiskal dan reformasi struktural akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas," kata Gubernur BI Agus Martowardojo seusai rapat.
Ekonom Institute for Economics Development and Finance, Aviliani, menilai penurunan BI Rate wajar karena keadaan ekonomi cenderung stabil. "Didukung deflasi dan penurunan harga minyak dunia," ujarnya.
AKSI KORPORASI
PTPN X Tambah Pabrik Bioetanol
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X akan membangun pabrik bioetanol berkapasitas 30 ribu kiloliter per tahun di Ngadiredjo, Kediri, Jawa Timur. Badan usaha milik negara ini telah memiliki pabrik serupa di Mojokerto, Jawa Timur.
Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan selama ini tetes tebu dari pabrik gula PTPN X dijual mentah ke perusahaan lain, seperti perusahaan pembuat bumbu makanan, atau diekspor. "Akan lebih menguntungkan jika diolah sendiri. Karena itu, kami akan membangun satu lagi pabrik bioetanol di Kediri," ujarnya Senin pekan lalu. Perusahaan memiliki bahan baku bioetanol berlimpah, sekitar 292.500 ton tetes tebu.
Pembangunan pabrik bioetanol di Kediri diperkirakan membutuhkan dana Rp 525 miliar. Diharapkan unit bisnis ini nantinya bisa menghasilkan pendapatan Rp 294 miliar per tahun. Perkiraan ini didasarkan atas asumsi harga bioetanol Rp 9.200 per liter dan harga CO2 Rp 1.500 per liter.
PERIKANAN
Aturan Alih Muatan Direvisi
MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berencana mengendurkan ketentuan pengalihan muatan di laut. Kebijakan itu akan merevisi Peraturan Kementerian Kelautan Nomor 57 Tahun 2014 yang melarang bongkar-muat ikan antarkapal di tengah laut untuk mengatasi pencurian ikan.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan Gelwyn Jusuf mengatakan alih muatan alias transshipment akan diizinkan dengan syarat tertentu. Di antaranya menempatkan pengawas pemerintah di kapal. Ia bertugas mencatat jumlah ikan yang dialihkan dari kapal penangkap ke kapal pengangkut. Syarat lain, kapal tak boleh mematikan sistem monitor kapal. "Perlu kontrol ketat untuk mengendalikan," kata Gelwyn, Rabu pekan lalu .
Kementerian mengakui pengawasan transshipment selama ini sangat lemah. Banyak kapal penangkap ikan tidak melalui pelabuhan dalam negeri. Akibatnya, negara kehilangan potensi pendapatan. Larangan transshipment Menteri Susi dikeluhkan Duta Besar Jepang Tanizaki Yasuaki karena pasokan tuna Indonesia ke Jepang menjadi seret.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo