Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia tahun 2016, penyakit jantung merupakan 35 persen dari seluruh kematian yang jumlahnya 1.863.000, disusul kanker (12 persen), dan penyakit tidak menular lain. Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sukman Tulus Putra, SpA(K), mengatakan pada umumnya, manifestasi klinis penyakit kardiovaskular terjadi pada usia dewasa sebelum umur 60 tahun.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Namun, proses yang menyebabkan penyakit kardiovaskular (PKV) telah terjadi sejak usia dini terutama, pada masa anak dan remaja. Dengan demikian, faktor risiko kardiovaskular sudah dapat dideteksi pada masa anak dan remaja yang sangat terkait dengan progresivitas proses aterosklerosis pada usia remaja dan dewasa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Oleh karena itu, deteksi faktor risiko kardiovaskular secara individual dan intervensi pada masa anak dan remaja merupakan strategi yang sangat penting untuk menurunkan risiko PKV pada usia dewasa," ujar Sukman. "Meskipun belum ada penelitian epidemiologis yang menyeluruh di Indonesia, namun beberapa penelitian pada anak-anak sekolah menunjukkan tingginya faktor risiko kardiovaskular pada anak."
Identifikasi dan intervensi terhadap faktor-faktor tersebut pada anak dan remaja merupakan upaya untuk mencegah dan menurunkan PKV termasuk penyakit jantung koroner. Sukman memaparkan faktor risiko kardiovaskular dikelompokkan dalam tiga kelompok, yakni faktor risiko yang dapat diubah disebut juga sebagai faktor risiko tradisional, meliputi kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas, diabetes mellitus, merokok, danhipertensi.
Ada juga faktor risiko intrinsik meliputi genetik, lingkungan, dan suscestibility. Terakhir adalah faktor risiko yang baru muncul (emerging risk factors) meliputi inflamasi/infeksi sistemik, sitokin, CRP, dan homosistein. Ada tiga fokus utama yang dapat mencegah faktor risiko kardiovaskular pada anak dan remaja yang dimulai dari asupan nutrisi, aktivitas fisik, dan paparan tembakau atau rokok.
"Nutrisi sejak bayi berupa pemberian ASI eksklusif sejak bayi lahir sampai usia 6 bulan ternyata anak tersebut di sekolah lanjutan atas (remaja) mempunyai ketebalan tunika intima media arteri karotis lebih tipis dan berbeda secara bermakna dibandingkan pada remaja, yang pada masa bayi minum susu formula atau ASI kurang dari empat bulan," papar Sukman.
Hal ini membuktikan nutrisi yang baik anak sejak usia dini dapat mengurangi risiko terjadinya PKV akibat aterosklerosis di kemudian hari. Sementara itu, aktivitas anak yang kurang dan paparan tembakau yang berlebihan telah banyak dibuktikan dapat meningkatkan risiko PKV, khususnya penyakit jantung koroner, yang saat ini menjadi penyebab kematian utama tertinggi di Indonesia.
Deteksi faktor risiko kardiovaskular melalui uji tapis pada usia anak serta remaja dan strategi untuk melakukan intervensi merupakan kunci utama dalam menurunkan angka kejadian PKV di usia dewasa dan lanjut. Masih tingginya angka kematian akibat PKV di Indonesia saat ini mungkin akibat minimnya kesadaran untuk mendeteksi dan mengintervensi faktor risiko kardiovaskular sejak usia dini dan remaja pada sekitar 90 juta anak Indonesia.
"Sehingga diperlukan strategi dan langkah yang kongkrit dengan melibatkan semua sektor terkait dari sektor kesehatan, pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat itu sendiri,” kata ketua Purna Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.