Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Berburu santapan di Palembang seakan tak ada habisnya. Kota dengan daerah pecinan tertua itu menyimpan warisan kuliner nan kaya. Selain pempek dan pindang, satu lagi yang tak kalah otentik adalah mi celor.
Seperti gudeg bagi warga Yogyakarta, mi celor adalah menu sarapan wajib warga kota wong kito galo. Tak heran, di pasar-pasar tradisional, seperti kawasan Pasar 26 Ilir, banyak ditemukan penjual mi celor pada pagi hari.
Mi celor merupakan mi kuning dengan kuah santan dicampur kaldu udang yang kental. Mi kuning yang digunakan untuk memasak mi celor tentu bukan sembarangan mi.
Ukuran diameternya spesial lantaran lebih besar dibanding mi pada umumnya. Bahkan melampaui diameter pasta.
Salah satu warung tertua yang menjual mi celor ialah warung milik Anibah, yakni warung HM Syafei. Warung yang buka sejak 1970 itu menjajakan mi celor dengan rasa khas.
"Bukan kuah santan kaldu biasa. Kami memakai resep khusus. Kaldu yang dipakai adalah kaldu otak udang. Tentu dengan bumbu rahasia," kata Siti Hawa, generasi kedua penerus usaha Anibah, di Palembang, Sumatera Selatan, Februari lalu.
Mi celor racikan Anibah memang tampak lebih kental daripada mi celor lain. Kuahnya juga lebih gurih dan creamy. Saat dikecap, rasanya seperti diberi campuran susu murni. "Tapi bukan pakai susu. Ya itulah letak bumbu rahasianya," tuturnya.
Mi celor tak hanya disantap sepi. Untuk memperkaya rasa, mi kuning ini dilengkapi tambahan rebusan telur dan tauge. Juga kucai serta bawang goreng yang memperkuat rasa gurihnya.
Sepiring mi celor di warung HM Syafei, yang nikmat disantap selagi hangat, dibanderol Rp 15 ribu. Warung yang berlokasi di Jalan Mujahidin, 26 Ilir, Palembang, ini buka mulai pukul 06.30.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Artikel lain: Pertama Kali ke Banda Neira, Perhatikan 8 Tip Berikut