Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Puluhan babi di Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, mati mendadak dalam 2 minggu terakhir. Diduga, babi tersebut mati karena terserang virus Hog cholera.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Salah satu daerah terparah yang terserang wabah itu adalah Desa Simorangkir Hanbiaaran, Kecamatan Siatas Barita. Peternak babi mengaku resah dengan kematian hewan ternaknya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kepala Desa Simorangkir, Hardi Saut Simorangkir mengatakan kejadian ini sudah dua minggu, virus itu menyerang dengan cepat hingga babi di sana mati mendadak.
”Gejalanya babi itu gemetar lalu mati, ada 30 lebih kalau tidak salah secara tiba-tiba mati diserang wabah itu,” ujar Hardi, Selasa 15 Oktober 2019.
Menurut Hardi jumlah babi yang mati setiap harinya sudah jauh berkurang, karena Pemkab Taput memberikan vaksin.
”Tolong pemerintah segera mencari penyebabnya, masyarakat resah karena hewannya berkurang,” ujarnya
Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Taput, Sondang Ey Pasaribu membenarkan kejadian ini.
”Sebelumnya wabah Hog Cholera terjadi di Medan, menyebar ke Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan dan selanjutnya Tapanuli Utara,” ujar Sondang.
Sondang mengatakan, sebelum terkena wabah Hog Cholera, babi yang terkena virus ini mengalami gejala demam, menggigil, kotoran mengeras, kurang nafsu makan hingga di sekitar telinga berwarna merah kebiruan.
”Dampaknya menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani. Berdasarkan laporan petugas Kecamatan Siatas Barita, ternak Babi yang mati akibat tertular Hog Cholera sekitar 52 ekor,” ujar Sondang .
Untuk mencegah virus tidak menular ke ternak babi yang lain Pemkab Tapanuli melalui Dinas Pertanian sudah melakukan vaksinasi ke ternak yang belum tertular serta melakukan pencegahan kepada ternak yang sudah tertular.
”Kita juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan sanitasi dan desinfeksi kandang, tidak memotong ternak yang tertular, membawa ternak dari daerah tertular, serta mengubur ternak yang mati, bukan membuangnya ke sungai,” kata Sondang.