Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Motor

Waspada Motor Bodong Mulai Dijual ke Showroom, Ini Cirinya

Para pemilik motor bodong juga menyasar ke dealer motor bekas demi mendapatkan harga lebih pantas dan cepat terjual.

16 Desember 2018 | 09.51 WIB

Petugas memasangkan garis polisi pada motor bodong hasil operasi di Mapolrestabes, Bandung, Jawa Barat. Senin 2 Februari 2015. Dalam operasi yang digelar selama 10 hari, Polrestabes Bandung mengamankan 632 unit kendaraan roda dua, 300 di antaranya terindikasi sebagai motor curian. TEMPO/Aditya Herlambang Putra
material-symbols:fullscreenPerbesar
Petugas memasangkan garis polisi pada motor bodong hasil operasi di Mapolrestabes, Bandung, Jawa Barat. Senin 2 Februari 2015. Dalam operasi yang digelar selama 10 hari, Polrestabes Bandung mengamankan 632 unit kendaraan roda dua, 300 di antaranya terindikasi sebagai motor curian. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Yogyakarta -  Motor bodong atau motor yang tak dilengkapi  surat-surat yang sah seperti Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), masih diminati sebagain kalangan pasar gelap. Tak jarang, motor bodong itu juga pernah ditawarkan ke dealer motor bekas demi mendapatkan harga lebih pantas dan cepat terjual.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Ada beberapa orang mencoba menjual motor bodong itu, tapi saya tak mau beli karena resikonya besar," ujar pemilik showroom motor bekas Semangat Motor Yogyakarta, Doni Erwanto alias Sentot kepada Tempo Sabtu 15 Desember 2018.

Baca: Tip Membeli Motor Bekas, Simak 5 Langkah Ini Agar Tak Tertipu

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Resiko dimaksuk karena showroomnya bekerjasama dengan leasing atau lembaga pembiayaan. Menjual motor bodong artinya merusak kerjasama itu. Selain itu, ujar Doni, menjual motor bodong sama saja bunuh diri. Konsumen motor bekasnya diperkirakan tak akan mau membeli motor tanpa dilengkapi BPKB itu yang artinya itu membawa kerugian untuknya.

Doni yang sudah 18 tahun berkecimpung di dunia jual beli motor bekas itu menuturkan, pengalamannya para penjual motor bodong yang datang kepadanya bisa diketahui dari gelagatnya.

"Pertama, dia akan langsung pasang harga di bawah harga normal," ujarnya. Kemudian saat harga rendah yang ditawarkan itu dinego separonya sendiri, maka penjual akan langsung memberikan tanpa berusaha mempertahankan harga awalnya.

"Yang buat curiga ketika dijeblokkan (diturunkan) harganya, langsung dilepas, misalnya saat itu saya ditawari Suzuki Smash dengan harga Rp 6 juta, lalu saya tawar Rp 3 juta langsung diberikan, tapi saya tak mau beli," ujarnya.

Simak: Awas Motor Bodong, Simak Cara Mengenalinya

Doni mengakui pihaknya berulang kali menggunakan test case menjatuhkan harga seperti itu demi mengetahui motor yang dijual bodong atau tidak. Pengalamannya, harga motor bekas bodong yang ditawarkan berkisar Rp 2-4 juta saja dari harga normal misalnya Rp 7-9 juta.

Tak hanya itu, penjual motor bodong biasanya juga tak mampu detil menjelaskan asal usul motornya. "Keterangan penjualnya biasanya ganjil, seperti karena kedua orang tuanya meninggal bersamaan atau sedang kerja lama di luar kota tak pulang-pulang, pokoknya macam-macam," ujarnya.

Doni menuturkan tak mengetahui persis darimana asal usul motor bodong itu terus berdatangan. Namun yang pasti, motor itu jika tak laku dijual akan dipakai sendiri dengan area operasional di wilayah pedesaan atau pinggiran kota yang jarang ada razia polisi.

"Kalaupun susah laku dalam bentuk utuh, biasanya lebih banyak dijual dalam bentuk spare part, terlebih jika itu motor hasil curian maka kemungkinan besar tak berani jual ke dealer," ujarnya.

Baca: Situs e-Commerce Milik Adira Finance Jamin Tak Jual Motor Bodong

Sebab, dealer yang membeli motor itu akan meminta identitas penjual untuk kelengkapan administratif. Identitas penjual motor curian bakal tercatat dan mudah dilacak ketika motor itu terciduk polisi.

"Lebih banyak motor bodong itu akan dipereteli onderdilnya lalu dijual ketengan ke orang," ujar ayah satu anak itu.

Tak hanya motor bodong, Doni pun tak jarang mendapati orang yang datang kepadanya untuk menjual BPKB saja tanpa motornya. "BPKB saja yang dijual, karena dianggap berharga dibanding motor nya," ujarnya.

 

Eko Ari Wibowo

Eko Ari Wibowo

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Bergabung dengan Tempo sejak 2005. Kini menulis tentang isu politik, kesra dan pendidikan. 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus