Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Muhammad Arifin Ilham, 18 tahun berbahagia akhirnya bisa masuk kampus impiannya, Universitas Gadjah Mada atau UGM. Putra Aceh yang sempat merasakan beratnya bangkit dari bencana tsunami pada 2004 itu diterima di UGM dan menjadi mahasiswa penerima UKT Pendidikan Unggul bersubsidi 100 persen (UKT 0) di Jurusan Hubungan Internasional.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tak mudah untuk bisa mencapai itu dengan berbagai kondisi keluarganya. Dari lahir hingga usia dua tahun, Arifin tinggal di tenda barak pengungsian karena rumah orang tuanya rata dengan tanah tak bersisa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam kondisi mengungsi, Arifin terlahir prematur di usia kandungan tujuh bulan dengan berat hanya 1,3 kilogram. “Saat terjadi tsunami Desember 2004 lalu, ibu masih kondisi hamil saya usia kandungan lima bulan. Alhamdulillah, bapak ibu berhasil selamat dari tsunami, lari ke bukit kala itu,” kata dia.
Dua tahun tsunami berlalu, Arifin dan keluarganya kembali ke kampung halaman menempati rumah bantuan tsunami dari pemerintah. Ayahnya, Mukhlis, yang sebelum tsunami memiliki toko kelontong juga mulai menjalankan kembali usahanya.
Meski hidup dengan kondisi kondisi pas-pasan, Arifin tak berkecil hati. Sejak kecil ia memang telah memimpikan bisa berkuliah agar bisa terlepas dari belenggu keterbatasan. Karena itu, sejak bangku sekolah dasar, ia berusaha untuk berprestasi dengan tekun belajar.
Sejak SD hingga SMP, Arifin selalu masuk tiga besar di sekolah dan di jenjang SMA selalu meraih ranking 1 dan mendapatkan beasiswa pendidikan. Sederet prestasi di tingkat nasional pernah diraih Arifin seperti juara 1 kompetisi Bahasa Inggris Jenius Competition 2022, juara 1 lomba esai FPCI UGM 2022, dan juara 1 Olimpiade Bahasa Inggris yang digelar PT Bima Competition.
Arifin makin bersemangat untuk kuliah karena dorongan dari guru di sekolahnya MAN 1 Banda Aceh. Ia memilih UGM sebagai tempat untuk melanjutkan studi.
“Sejak SMP memang pengin kuliah di UGM. Kata orang-orang, kalau ada potensi lebih baik kuliah di luar Aceh, jadi saya semakin mantap pilih UGM karena 12 tahun kan sudah habiskan belajar di Aceh,” kata Arifin.
Afrianti, ibu Arifin gembira anaknya diterima di kampus impian, terlebih dengan biaya gratis. “Anaknya sejak dulu memang pengin kuliah di Jogja. Kami senang anak bisa diterima masuk UGM gratis,” kata dia.
Namun keluarganya sempat kebingungan karena Arifin hanya dibebaskan dari biaya kuliah. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari di Yogyakarta, harus diupayakan sendiri.
“Ternyata beasiswanya tidak full, asrama dan biaya hidup tidak ditanggung. Saat itu saya bilang ke anaknya untuk tidak usah diambil karena memang tidak mampu biayanya, bantu-bantu di rumah jualan saja,” kata Afrianti.
Meski begitu, niatan Arifin tak padam. Setelah berdiskusi dengan pihak sekolah, Arifin bisa mengupayakan beasiswa lain, yaitu Kartu Indonesia Pintar (KIP).
“Soal biaya hidup kata sekolah nanti bisa cari beasiswa KIP. Semoga dapat, kalau tidak ya anaknya cari beasiswa lainnya untuk hidup di Jogja,” kata Mukhlis.
Saat ini, keluarga Arifin masih mengumpulkan uang untuk tiket keberangkatan Arifin ke Yogyakarta. Mukhlis berharap nantinya anaknya bisa menjalani kuliah dengan lancar, lulus tepat waktu dan segera mendapatkan pekerjaan. “Kami hanya bisa mendoakan anaknya bisa lancar kuliah dan jadi orang sukses, bisa membantu keluarga nantinya,” kata dia.
Arifin menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi seseorang meraih pendidikan setinggi-tingginya. UGM sebagai lembaga pendidikan tinggi telah berkomitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat termasuk bagi masyarakat kurang mampu, 3 T, serta penyandang disabilitas.