Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian memerintahkan Korps Kepolisian Air dan Udara membantu proses distribusi logistik untuk Pemilihan Kepala Daerah 2018 (pilkada 2018). Ia menyebutkan bantuan ini akan diprioritaskan untuk daerah yang tertinggal dan terpencil.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Daerah tertinggal sering telat pilkadanya. Pilkada bisa 2-3 hari setelahnya, sehingga terpengaruh hasil pilkada di daerah lain. Kita upayakan pilkada serentak bisa dipenuhi," ujar Tito di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa 5 Desember 2017.
Baca: Peta Daerah Rawan Konflik Pilkada 2018, Polri dan Bawaslu Berbeda
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tito menyebutkan peran penting Korps Polairud diperlukan untuk pergeseran pasukan dan logistik di daerah kepulauan terutama di daerah terpencil. Menurut dia, pihaknya bakal memanfaatkan perahu kepolisian dan TNI untuk distribusi logistik. "Saya harap pelaksanaan pilkada pada hari H, dilaksanakan serentak di semua wilayah," ujarnya.
Komisi Pemilihan Umum akan menggelar Pilkada Serentak 2018 di 171 daerah yang meliputi 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Pilkada 2018 akan digelar di 392.226 TPS. Dari ratusan ribu tempat pemungutan suara itu, kepolisian membagi menjadi tiga kategori rawan. TPS yang dikategorikan aman sebanyak 328.389 TPS.
Perintah Tito dilayangkan saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-67 Korps Polairud di Pangkalan Terbang Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Tito mengatakan perlunya kepolisian bersiap menyambut rentetan agenda nasional pada 2018 tersebut.
Baca: Media Sosial Jadi Salah Satu Aspek Kerawanan Pilkada 2018
Selain membantu sukses Pilkada 2018 di 171 daerah, Tito juga berharap peran polairud dalam mengawal pergelaran Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, serta pertemuan World Bank Annual Meeting di Bali. "Saya harap korpolairud dapat berperan aktif dalam mendukung keamanan berbagai agenda nasional," ujar Tito.