Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jakarta Pramono Anung meresmikan reservoir atau cadangan air komunal di kawasan rumah susun sewa (rusunawa) Tambora, Jakarta Barat, hari ini. Reservoir ini melayani empat RW yang berada di wilayah Kelurahan Angke, meliputi RW 01, 02, 03, dan 04 dengan total 970 pelanggan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pramono mengatakan ketersediaan air bersih bagi warga merupakan salah satu fokus utamanya dalam memimpin Jakarta. Dia mengaku sedih ketika mengetahui bahwa masih banyak warga yang masih harus membeli air bersih. “Sehingga dengan demikan inilah yang menjadi prioritas saya untuk segera diselesaikan,” ujar Pramono dalam sambutannya, Rabu, 26 Maret 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam peresmian reservoir itu, hadir pula Direktur Utama Perumda Air Minum Jaya (PAM Jaya) Arief Nasrudin. Dia mengatakan dibangunnya reservoir komunal di Tambora ini berdasarkan tingkat kepadatan penduduknya. Arief menjelaskan warga sering kali menggunakan air secara bersamaan, sehingga di wilayah dengan suplai air rendah atau di wilayah terpencil sering kali mengalami tekanan air yang kecil. Supaya tidak berebutan, kami buat lah komunal,” ujarnya.
Dia pun mengklaim tekanan air di wilayah yang diairi oleh reservoir komunal Tambora cukup baik dengan 0,7 bar.
Di kesempatan itu, Pramono kembali menyinggung target pemerataan air bersih bagi seluruh warga Jakarta pada 2029. Dia meminta Arief untuk menindaklanjuti target tersebut dengan serius.
Pemerintah Provinsi Jakarta bersama PAM Jaya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) untuk menindaklanjuti rencana pemerataan air bersih melalui pipa dari Waduk Jati Luhur dan Waduk Karyan. “Kalau itu bisa selesai saya yakin di tahun 2029 maka persoalan air bersih di seluruh Jakarta akan tertangani dengan baik,” kata Pramono.
Adapun penyelesaian permasalahan air bersih bagi warga merupakan salah satu program quick wins pasangan Pramono Anung dan Rano Karno dalam seratus hari pertamanya.