Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Denpasar - Gunung Agung sudah tiga pekan berstatus awas atau level IV. Peneliti lontar, Sugi Lanus mengatakan dongeng diperlukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Gunung Agung, terutama bagi anak-anak di pengungsian.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Dongeng itu healing (pemulihan), ada sisi keindahan Gunung Agung sebagai pengasih dan memberikan kesuburan," katanya saat diskusi bertajuk 'Gunung Agung dalam Dongeng, Legenda dan Novel', di restoran Il Pomodoro, Denpasar, Sabtu, 14 Oktober 2017.
Baca: Gunung Agung Masih Awas, Pemerintah Bali Perpanjang Masa Darurat
Menurut Sugi, dongeng bukan hanya persoalan literatur. Namun, kata dia, sekaligus berhubungan dengan aspek kemanusiaan orang Bali. "Gunung Agung konteks dan makna, di mana tubuh dan pikiran kita letakkan tentang itu," tuturnya. Sugi menambahkan dongeng menjadi sikap yang terpancar dalam cerita dan narasi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Adapun seniman Cok Sawitri mengatakan dongeng sebagai bekal untuk membangun mentalitas anak-anak, terutama saat di pengungsian. "Dongeng itu salah satu cara menasehati, tanpa terasa dinasehati," katanya.
Cok menjelaskan dalam tradisi orang Bali dongeng bukan hanya untuk anak-anak. Tetapi, ujar dia, sangat penting di kalangan para orang tua. "Dongeng itu kegiatan orang tua mewariskan memori pengetahuan tentang berbagai peristiwa," ujarnya.
Sugi Lanus sependapat dengan Cok Sawitri ihwal upaya mendokumentasikan kembali dongeng-dongeng tentang Gunung Agung. Menurut Sugi, alam menyimpan banyak cerita menyenangkan. Adapun Cok Sawitri menambahkan bahwa dongeng kelak juga berfungsi memberikan informasi kekayaan tanaman dan kemampuan dalam beternak. Menurut Cok Sawitri sangat penting mendokumentasikan dongeng-dongeng yang berasal dari desa-desa di seputaran Gunung Agung.
Baca juga: Soal Gunung Agung, Kepala PVMBG: Musim Hujan Mempengaruhi Lahar
Relawan Bali Baca Buku, Novia Sartika Dewi bersama teman-temannya rutin ke pengungsian untuk menyebarkan dongeng. Menurut dia para orang tua sangat antusias. "Kami berikan tips mendongeng anak-anaknya di pengungsian," katanya.
Diskusi tersebut juga membahas novel berjudul Di Bawah Letusan Gunung Agung. Novel karya Djelantik Santha itu diulas oleh pegiat sastra Bali, Gede Gita Purnama dari Hanacaraka Society.
Gede menuturkan dalam novel tersebut penulis melibatkan seluruh pengalamannya terkait letusan Gunung Agung pada 1963. Pemetaan daerah terdampak dan jalur evakuasi mewarnai cerita dalam novel.
Meskipun saat ini sudah ada kecanggihan pemetaan kawasan rawan bencana, menurut dia, peran sastra tetap sangat penting untuk melengkapi pengetahuan warga yang berada di kawasan rawan bencana Gunung Agung. "Sastra, memberi tahu dengan cara yang dinikmati dan enak. Pembaca bisa terikat secara emosional dengan pengalaman penulis," tuturnya.