MRAPEN di Desa Manggar Mas, pagi 6 Oktober, tampak semarak. Desa yang 40 km di timur Semarang ini berubah ramai, menjadi pusat perhatian. Sebuah upacara khidmat di sela alunan gending sedang berlangsung. Pengambilan api alam dari Mrapen merupakan bagian awal dari Pekan Olahraga Nasional XII, di Jakarta, 18 sampai 28 Oktober ini. Ketua Umum KONI Pusat Surono menyalakan obor api PON tersebut, kemudian dibawa menuju Jakarta. Obor itu menempuh perjalanan 1.339 km, selama 12 hari. Sekitar 601 regu pelari membawa obor tadi, secara beranting, melintasi kota-kota, menyusuri lereng gunung dan perbukitan. Sedangkan penduduk di sepanjang jalan yang dilintasi di lima daerah tingkat II di Jawa mengelukan rombongan yang lewat. Api Mrapen ternyata memiliki kisah. Tersebutlah Sunan Kalijaga yang dalam perjalanan dari Majapahit menuju Demak. Raden Patah mengutus sang wali agar mendirikan masjid di sana. Karena lelah, Sunan Kalijaga dan rombongan memilih istirahat di Desa Manggar Mas. Untuk mendapatkan air dan api, Sunan dua kali menancapkan tongkat wasiatnya ke tanah. Byaar. Itulah, kemudian menjadi sumber air Sendang Dudo dan api alam Mrapen. Api dari perut bumi ini, konon, tak pernah padam, biarpun rajin diguyur hujan, bahkan badai. Mungkin itulah sebabnya api Mrapcn layak dijadikan simbol semangat yang tak pernah mati -- berpacu meraih prestasi tertinggi dalam pesta olahraga terbesar yang bernama PON. "Salah satu tujuan pengambilan api PON yaitu menggelorakan dan merangsang partisipasi aktif masyarakat untuk menegakkan panji-panji olahraga di tanah air," kata Surono. Itu semua untuk membakar semangat yang merangsang berlomba, sehingga jadi kebanggaan nasional. "Di samping untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa," kata Akbar Tandjung, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. BP, Bandelan Amarudin, Aries Margono
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini