MESKI panas terik, tamu-tamu penting yang datang -- dengan pesawat carteran -- dari Jakarta disambut gembira oleh tuan rumah: Pertamina Unit Pengolahan III, Plaju, Sumatera Selatan. Upacara Rabu pekan lalu itu bertepatan dengan pengapalan ke-100 produknya, PMrified Terephthalic Acid (PTA), ke Pulau Jawa. PTA adalah bahan baku serat sintetis polyester, yang merupakan komponen utama pembuatan sandang. Dalam 2 tahun ini, Pertamina Plaju berhasil memproduksi tak kurang dari 232.524 metrik ton PTA, yang semuanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan industri sandang dalam negeri. Dengan produksi per tahun hanya sekitar 150 ribu ton, Pertamina Plaju sebetulnya belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, yang 200 ribu ton. "Kita masih mengimpor sekitar 60 ribu ton PTA setiap tahunnya, dari Jepang, India, Korea, dan Eropa," ujar Ir. Firdaus Munaf, Direktur Industri Kimia Organik, Departemen Perindustrian. Kendati demikian, dengan adanya industri PTA di Plaju ini, kita telah menghemat devisa US$ 71 juta tiap tahun. Kita bisa menghemat lebih dari itu kalau saja bahan baku PTA itu sudah sepenuhnya diproduksi di sini. Bahan baku yang penting, menurut Firdaus, adalah para-xylene dan asam asetat -- keduanya masih diimpor. Memang ada rencana pemerintah akan membangun pabrik para-xylene di Cilacap dan menylapkan produksi asam asetat di Solo. Pabrik PTA sendiri setidaknya ikut berperan mengangkat ekonomi Sumatera Selatan. Padahal, pada 1983, pabrik PTA termasuk proyek yang mesti dijadwalkan kembali pembangunannya, di-scale down, seperti kata Direktur Pembekalan Dalam Negeri Pertamina N. Sutan Assin. Tapi demi swasembada sandang, pemerintah menyetujui kelanjutan pembangunannya. Menurut Sutan Assin, pusat aromatik yang memproduksi PTA ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 Juli 1986. Investasinya lebih dari US$ 800 juta. Kendati ada berbagai kesukaran pada awal operasinya, semua itu dapat diatasi pihak kontraktor utama, Thyssen-Kellog dan Licencor Mitsui Petrochemical Industries Co. Sekarang peran asing di pabrik PTA hanya terbatas pada 5-6 tenaga ahli Mitsui Jepang, yang bekerla sebagai penasihat. Ini perlu, sebab, kata Ir. Azir Hamid, dari Pertamina Plaju, industri jenis petrokimia merupakan soal baru bagi Indonesia. Firdaus Munaf juga mengakui hal ini. "Pada mulanya memang terdapat perbedaan mutu dengan yang dikehendaki konsumen." katanya. Tapi segera bisa diatasi, dan kini telah ditetapkan Standar Industri Indonesia untuk PTA, dengan nomor 2108-87. Saat ini, kapasitas terpasang pabrik di Plaju sebanyak 225 ribu ton setahun. Dan kata Sutan Assin, greenlight ke arah produksi sebesar 225 ribu ton itu sudah ada. "Kalau bisa, sebelum dua tahun ini sudah tercapai, dan kebetulan harga sedang melonjak," ujarnya. Dengan distributor tunggal PT Humpuss, PTA dari Palembang ini harganya cukup kompetitif dibanding PTA impor. Menurut Ketua Asosiasi Produsen Syntetic Fibre Indonesia (APSyFI), Dr. A. Baramuli, S.H. "Anggota APSyFI membelinya dengan harga US$ 655 per ton." Dirut Humpuss, Hutomo "Tommy" Mandala Putera, berkata, jika nanti produksi PTA naik menjadi 225 ribu ton, pihaknya optimistis akan melaksanakan distribusi dengan baik. Humpuss sendiri punya rencana membangun pabrik petrokimia di Lhokseumawe, Aceh. "Kalau kebutuhan PTA kelak lebih dari 225 ribu ton setahun, barangkali kita akan mempertimbangkan pembangunan pabrik PTA yang baru," kata Tommy serius. "Entah dalam bentuk kerja sama dengan Pertamina atau lainnya, atau bagaimana." Syafiq Basri
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini