Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kerajaan Arab Saudi terus mengembangkan pariwisata untuk meningkatkan devisa nonmigas. Negeri itu membuka permohonan izin untuk pembangunan Al Ula, pada 15 Maret 2020. Kabar itu diumumkan oleh Komisi Kerajaan untuk Al Ula (RCU), dikutip dari Arab News.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Al Ula berada di kawasan lembah yang luas, dengan deretan perkebunan palem, di antara wadi atau sungai kering, mengutip Lonely Planet. Al Ula memiliki reruntuhan kota tua yang mewujudkan arsitektur tradisional Arab. Peninggalan yang menceritakan abad ke-6 sebelum masehi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Letak Al Ula cukup strategis untuk beberapa rute perdagangan rempah-rempah dan luban pada masa lampau, yang berasal dari Levant, Mesir, dan Afrika Utara.
Adapun RCU meluncurkan rincian tahap awal program pengembangan perkotaan untuk Al Ula Selatan. Langkah pertama dalam mendorong pembangunan perkotaan yang berkelanjutan di daerah tersebut.
"Izin pembukaan untuk bangunan perumahan dan komersial di Al Ula Selatan adalah langkah pertama menuju pertumbuhan," kata Pimpinan Eksekutif (CEO) RCU Amr Al-Madani dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, pembangunan lanskap perkotaan sebagai upaya meningkatkan estetika Al Ula, juga menunjang kehidupan masyarakat.
“Kami telah meluncurkan serangkaian program dan inisiatif, termasuk program pelatihan untuk 3.500 penduduk asli Aljazair dan lebih dari 900 pekerjaan," kata Amr Al-Madani.
Fase pertama izin bangunan akan mencakup bagian dari lingkungan Al-Azizia dan Al-Salam di Al Ula Selatan. Pemilik lahan di daerah tersebut akan diizinkan untuk membangun properti perumahan atau komersial.
Langkah itu mengikuti sejumlah proyek pembangunan untuk meningkatkan infrastruktur pariwisata Al Ula, termasuk perluasan Bandara Domestik Pangeran Abdul Majeed bin Abdul Aziz. Bandara Domestik tersebut akan disiapkan untuk menerima 400.000 pengunjung setiap tahun dan meningkatkan statusnya sebagai pusat logistik.
“Kami sedang berupaya mengangkat Al Ula sebagai model kota untuk pariwisata, pertumbuhan ekonomi dan pengembangan masyarakat,” ucap Al-Madani.
Program pengembangan akan mencakup infrastruktur, telekomunikasi dan sistem transportasi. Tujuannya untuk meningkatkan layanan yang diberikan kepada masyarakat dan turis.
Berdasarkan laporan Gulf Business, Al Ula berada 1.100 kilometer dari Riyadh di barat laut Arab Saudi. Luas Al Ula sekitar 22.561 kilometer persegi mencakup lembah oasis dan situs warisan budaya kuno sejak periode Lihyan dan Nabataean. Peninggalan yang paling terkenal di Al Ula adalah Hegra, situs warisan dunia UNESCO.
Situs Nabatean di Al Ula. Foto: @ancient.journeys
Bulan lalu, kerajaan mengumumkan bahwa di bawah Saudi Vision 2030, berencana menetapkan Al Ula sebagai museum hidup terbesar di dunia. Pengembangan Al Ula sebagai tujuan wisata warisan budaya, seni, dan petualangan. Arab Saudi bertujuan untuk menampung 2 juta pengunjung per tahun di Al Ula pada 2035.
ARAB NEWS | LONELY PLANET | GULF BUSINESS