Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Prosedur yang Dilakukan saat Penumpang Meninggal di Pesawat

Baru-baru ini pasangan suami istri menceritakan pengalamannya duduk di samping jenazah penumpang yang sudah meninggal dalam penerbangan

28 Februari 2025 | 22.00 WIB

Ilustrasi penumpang pesawat terbang. Unsplash.com/Mohammad Arrahmanur
Perbesar
Ilustrasi penumpang pesawat terbang. Unsplash.com/Mohammad Arrahmanur

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Baru-baru ini pasangan suami istri menceritakan pengalamannya duduk di samping jenazah penumpang yang sudah meninggal dalam penerbangan. Pihak maskapai penerbangan mengatakan tetap mengutamakan keselamatan dan kenyamanan sampai akhir penerbangan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Mitchell Ring dan Jennifer Colin sedang berada dalam penerbangan Qatar Airways menuju Venesia dari Melbourne. Di tengah perjalanan seorang penumpang wanita tiba-tiba pingsan di lorong setelah pergi ke toilet. "Sayangnya, wanita itu tidak dapat diselamatkan, sungguh menyedihkan untuk ditonton," kata Mitchell kepada A Current Affair.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Para awak pesawat kemudian menyadari ada kursi kosong di kedua sisi pasangan tersebut, dan meminta mereka untuk minggir untuk memberi ruang bagi jenazah. Wanita yang meninggal itu ditempatkan di samping Mitchell dan ditutupi selimut selama sisa empat jam penerbangan menuju Doha.

Peristiwa menegangkan dan dramatis

Mantan pramugari Jay Robert menjelaskan bagiaman menghadapi kematian dalam penerbangan adalah hal yang sangat menegangkan. Hal ini sering kali dapat menjadi "traumatis" bagi semua orang yang terlibat.

"Kematian di pesawat pada ketinggian 35 ribu kaki adalah salah satu situasi yang paling ditakuti oleh pramugari, sering kali karena kematian tersebut terjadi setelah keadaan darurat medis, yang sudah sangat menegangkan untuk ditangani," ujarnya dikutip dari Mirror.

Jay melanjutkan ketika keadaan darurat medis mengakibatkan kematian, hal itu dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis bagi semua orang di dalam pesawat, terutama jika penumpangnya masih muda. Menurut dia, peluang pramugari untuk menghadapi kematian selama penerbangan meningkat jika mereka bekerja di pesawat besar yang terbang pada rute jarak jauh.  

"Hal ini disebabkan penerbangan tersebut memiliki lebih banyak penumpang, lebih sedikit kesempatan untuk menghibur, dan penumpang harus duduk dalam waktu lama, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius," ujarnya. 

Meski begitu, penerapan tindakan kesalamatan tetap penting dilakukan mencoba dan membatasi jatuhnya korban jiwa. Setiap maskapai penerbangan cenderung memiliki prosedur medis darurat mereka sendiri sesuai dengan peraturan dan pedoman internasional. Tetapi mereka dapat menyesuaikannya agar sesuai dengan kebutuhan spesifik maskapai. Sebab itu, protokol dapat bervariasi antara maskapai penerbangan, tetapi pramugari biasanya dilatih untuk memberikan dukungan kehidupan, memberi tahu pilot, dan mendapatkan saran dari profesional medis.

Semua awak kabin mengetahui CPR dan ada defibrilator di dalam pesawat yang dapat digunakan jika seseorang berhenti bernapas.  Bergantung pada tingkat keparahan situasi, kapten kemudian akan memutuskan dengan pusat operasi maskapai apakah akan melanjutkan ke tujuan yang dituju atau mengalihkan ke bandara lain.

Dilansir dari Daily Mail, Paulo Alves direktur medis global kesehatan penerbangan di MedAire, menyampaikan ada beberapa hal terbaik untuk menangani jenazah orang yang meninggal dengan hormat sekaligus menunjukkan kepekaan kepada siapa pun yang mungkin bepergian bersama mereka. Di antaranya adalah menutupi jenazah dengan selimut dan menjauhkannya dari penumpang lain jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, maka orang yang meninggal akan tetap berada di tempat duduk asalnya dengan sabuk pengaman terpasang untuk mencegah pergerakan selama penerbangan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus