Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) kerap memusnahkan lading ganja yang ada di Aceh. Namun untuk menemukan dan mencapai ladang ganja di sana bukan hal yang mudah.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Biasanya pelaku menanam ganja di tengah hutan Sumatera dengan karakter vegetasi yang rapat agar sulit terdeteksi. Untuk mencapai ke sana petugas BNN harus berjibaku menempuh jalur yang terjal hingga berhadapan dengan tanaman beracun.
Tidak terkecuali pada pemusnahan ladang ganja di kaki gunung Seulawah Agam, Aceh Besar, pada 16 Juni 2021 kemarin. Mengutip situs resmi BNN, Senin, 9 Agustus 2021, sebanyak 202 tim gabungan diterjunkan untuk menyusuri lokasi ditanamnya pohon bernama latin cannabis sativa itu.
Tim dipimpin langsung oleh Kepala BNN Petrus Reinhard Golose. Seluruh pasukan menyusuri jalur dengan kemiringan tanah mencapai 80 derajat. Sebanyak 2 titik ladang ganja berhasil ditemukan dengan karakter tanaman yang berbeda.
Pada lokasi pertama, 1 hektare ladang ganja ditemukan di ketinggian 424 MDPL, Adapun lokasi kedua berada di ketinggian 853 MDPL. Untuk mencapai ke sana, tim BNN harus melewati bukit terjal yang dipenuhi bebatuan, pasir, dan kerikil tajam.
Di sepanjang jalan pun banyak dijumpai tanaman beracun yang dikenal masyarakat dengan sebutan Jelatang. “Jika tertusuk duri halus pada daun dan batangnya, dapat menyebabkan rasa gatal dan perih seperti terbakar, hingga menyebabkan demam tinggi selama beberapa hari,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono.
LUAILIYATUL MAHMUDAH
Baca juga: