Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Angka kematian diperkirakan bertambah seribu orang saat gelombang panas membekap Inggris Raya selama tiga hari yang baru lalu. Gelombang panas atau heatwave itu membuat suhu udara di Inggris menyentuh rekor baru, tembus 40 derajat Celsius.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sebanyak sedikitnya 10 orang dilaporkan mati tenggelam di perairan saat menghindar dari dampak gelombang panas itu. Tapi, angka sementara untuk seluruh kematian yang dikaitkan dengan cuaca ekstrem tersebut diperkirakab jauh lebih besar daripada itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Antonio Gasparrini dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menduga kalau 948 orang telah meninggal di Inggris dan Wales karena cekaman suhu udara panas yang terjadi 17-19 Juli 2022 tersebut. Lebih dari separuhnya, 495 orang, diperkirakan berusia 85 tahun atau lebih--kelompok usia yang menyusun dua persen populasi di wilayah dua negara itu.
Kebanyakan kematian, 844, diperhitungkan terjadi pada dua hari terpanas, 18 dan 19 Juli. Padahal, rata-rata setiap tahunnya, Inggris dan Wales mencatat 791 kematian karena cuaca panas. "Jadi ini lebih tinggi hanya dalam tiga hari daripada sepanjang tahun. Parah sekali," kata Gasparrini.
Angka-angka itu diturunkan dari memodelkan berapa banyak kematian yang akan terjadi di berbagai wilayah di Inggris Raya berdasarkan berapa tinggi kenaikan temperatur yang terjadi, bukan berdasarkan jumlah kematian tambahan yang dicatat selama gelombang panas. Proses resmi itu biasanya butuh waktu lebih lama daripada pendekatan hampir real-time oleh Gasparrini.
Dia sampai pada temuannya, yang akan dibeberkan lebih rinci lewat publikasi dalam jurnal ilmiah, dengan ekstrapolasi dari riset yang telah diterbitkannya lebih dulu pada bulan ini. Studi itu mengkalkulasi risiko dari gelombang panas untuk kelompok-kelompok usia yang berbeda di hampir 35 ribu area geografis yang kecil di seluruh Inggris dan Wales antara 2000 dan 2019.
Perkiraan 948 kematian tambahan dalam tiga hari lalu adalah prediksi nilai tengah dari kisaran antara 681 dan 1.141 untuk skenario yang terburuk. Chloe Brimicombe dari University of Reading, Inggris, mengatakan, "kelihatannya ini sejalan dengan angka kematian sebenarnya dari gelombang panas itu."
NEWSCIENTIST, INDEPENDENT