Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
PEMILIHAN Umum atau Pemilu 2024 akan diwarnai dinasti politik. Hasil riset bersama antara Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Tempo menemukan sekitar 150 orang dalam daftar calon sementara anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah tingkat provinsi serta kabupaten dan kota memiliki hubungan kekerabatan.
Hubungan mereka meliputi orang tua, anak, cucu, suami-istri, saudara kandung, dan keponakan. “Politik dinasti masih sangat kental,” ujar peneliti ICW, Kurnia Ramadhana, Senin, 28 Agustus lalu. Menurut Kurnia, keluarga elite politik serta pejabat juga mendapat nomor urut atas sebagai calon legislator dan ditempatkan di daerah pemilihan yang berpotensi mendapatkan kursi.
Baca: Bahaya Politik Dinasti Jokowi
Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan para calon legislator dinasti memiliki sumber daya untuk mendapatkan keuntungan elektoral. Misalnya, memanfaatkan program-program kementerian untuk membantu keluarganya melakukan sosialisasi.
Khoirunnisa mencontohkan, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pernah menjual minyak goreng murah sekaligus mengkampanyekan putrinya, Futri Zulya Savitri, yang akan maju sebagai calon legislator di Daerah Pemilihan Lampung I. “Kondisi ini tidak sehat juga bagi lingkup internal partai politik. Kader partai yang sudah lama dikorbankan,” katanya.
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga mengatakan saat itu Futri hadir sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat PAN. Minyak goreng murah itu dibeli oleh Futri dan kemudian dibagikan ke daerah pemilihannya. Ihwal dinasti politik, Viva menyebutkan setiap orang punya hak mencalonkan diri. “Lampung I itu karena tanah kelahiran bapaknya dan punya basis massa di situ,” tuturnya.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo