Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Foto Airlangga Hartarto berkemeja putih tertera dalam poster di kedai Es Degan & Es Degan Ijo Cak Har di Jalan Dukuh Kupang Timur XV Surabaya. Dengan memasang panggilan akrab Paman AHA, Menko Perekonomian itu menyertakan pesan, “Rek Ayo Rek Tuku Ndek Kene, Mugo-mugo Rejeki Kathah lan Barokah” (Mari beli di sini, semoga rezeki Anda melimpah dan berkah). Poster bergambar Ketua Umum Partai Golkar itu juga telihat dalam spanduk di sebuah rumah usaha konveksi Jalan Darmorejo, Wonokromo Surabaya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ketua Partai Golkar Surabaya Arif Fathoni mengatakan, poster bergambar Airlangga Hartarto di pedagang kaki lima maupun di rumah warga yang memiliki usaha kecil menangah, menandakan bahwa mereka telah mengikuti pelatihan kewirausahaan oleh DPP Golkar dan DPD Golkar Jawa Timur. Di Surabaya, kata Arif, jumlahnya sudah lumayan banyak.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Dengan kebanggaan sendiri mereka memasang ketua umum kami karena merasa tercerahkan,” kata dia, Kamis, 21 Oktober 2021. Ia tak mengubah pendapatnya itu saat dihubungi ulang Ahad, 24 Oktober 2021.
Arif berujar pelatihan-pelatihan UMKM yang digelar Partai Golkar menunjukkan bahwa Airlangga peduli pada pegiat usaha kecil dan menengah. Arif pun mengklaim bahwa toko kelontong dan pedagang kaki lima yang memasang poster Airlangga makin menjamur. “Kewajiban kami mendorong bagaimana sosok ketua umum kami ini makin melekat di hati masyarakat,” ujarnya.
Arif mengatakan Golkar Surabaya banyak mendapat permohonan dari masyarakat agar difasilitasi ikut pelatihan kewirausahaan. Sebab selama masa pandemi, pendapatan asli daerah Kota Surabaya terkoreksi tajam. Yang bisa menopang agar perekonomian bergulir kembali, ujar dia, salah satunya ialah UMKM.
“Banyak pegiat UMKM yang minta diberi pelatihan mengelola ekonomi mikro di tengah pandemi, cara memasarkan dan cara mengakses bantuan-bantuan modal baik dari pemerintah maupun swasta, maupun program-program pemerintah yang pro UMKM,” imbuh Arif.
Mereka, menurut Arif, ada yang berkomunikasi melalui telepon atau datang langsung ke kantor Golkar. Tak sedikit dari mereka adalah korban pemutusan hubungan kerja karena efisiensi karyawan. “Mereka berminat menjadi pelaku industri UMKM dengan modal pesangon yang mereka terima,” ucap dia.
Golkar, kata Arif, menampung korban pemutusan hubungan kerja itu. Sebagian telah didorong agar diberikan pembinaan oleh Disperindag Surabaya. Sebagian lagi disalurkan ke Golkar Jawa Timur karena kebetulan sudah punya grup binaan pelaku UMKM se-Jawa Timur. “Sehingga kami tinggal mengkonekkan saja antara supply dengan demand,” kata Arif.
Menurut Arif, sejak sebelum pandemi, Golkar Jawa Timur melalui channel Golkar TV di Youtube aktif melakukan pelatihan-pelatihan secara daring. Setelah pelaku UMKM punya gambaran cara berwirausaha, maka tinggal mempertemukan antara pelaku dengan penjual serta dengan konsumen. "Ada sebagian yang bisa kami handle, adapun yang tak mampu kami handle, kami salurkan ke Golkar Jatim supaya dilakukan pembinaan,” kata Arif.
Baca Juga: Airlangga Belum Deklarasi Maju Pilpres, Golkar: Masih Sibuk Sebagai Menteri