Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Ganja Bikin IQ Remaja Jongkok? Simak Hasil Riset Ini

Hasil riset yang dilakukan Ole Rogeberg mencoba mengungkap pertanyaan soal apakah ganja alias mariyuana IQ remaja jongkok.

16 Desember 2017 | 13.20 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Seorang warga membuka kemasan ganja yang dijual di apotek di Montevideo, Uruguay, 19 Juli 2017. Urugay menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi melegalkan produksi dan penjualan ganja. AP Photo/Matilde Campodonico

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Oslo - Hasil riset yang dilakukan Ole Rogeberg mencoba mengungkap pertanyaan soal apakah ganja alias mariyuana membuat intelligence quotient (IQ) remaja jongkok. Dan dia menemukan tanaman penghasil efek ngefly ini ternyata bukan faktor utamanya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Faktor lingkunganlah yang menjadi penyebab penurunan IQ remaja, bukan pemakaian mariyuana. "Jenis-jenis lingkungan di mana Anda berada, mempengaruhi IQ Anda," kata Ole Rogeberg, ekonom tenaga kerja dari Frisch Center, lembaga riset di Norwegia, seperti dilansir dari laman Live Science.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pernyataan Rogeberg merupakan bagian dari hasil risetnya yang terbit di jurnal Proceeding of National Academy of Sciences. Hasil riset ini tentunya bukan bermaksud untuk menyebut mariyuana tak punya dampak buruk, melainkan untuk membantah riset tim ilmuwan Duke University--yang diterbitkan pada pertengahan 2013--yang menyebut faktor penggunaan ganja sebagai penyebab utama.

Studi yang dilakukan Rogeberg menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kelas ekonomi dan kehidupan di dalam rumah. Dia menggunakan simulasi komputer guna menunjukkan kaitan antara faktor-faktor tersebut dan penurunan IQ.

Menurut Rogeberg, pendidikan yang baik dan pekerjaan yang menantang dapat meningkatkan kecerdasan. Namun, katanya, jika seseorang didorong keluar dari lingkungan itu, bakal cenderung menjadi tipe yang menggunakan ganja selama masa remaja.

Studi sebelumnya yang dilakukan oleh Madeline Meier, Terrie Moffitt, dan Avshalom Caspi, dari Duke University, yang menggunakan data 1.037 warga Dunedin, Selandia Baru. Studi menyeluruh selama tiga dekade ini melacak responden dari usia 7 tahun ke atas. Mereka melihat hasil tes IQ, sampel darah, dan mewawancarai orang tua dan guru mereka. Tim menemukan bahwa penggunaan ganja menurunkan IQ sebanyak delapan poin, bagi pengguna yang memulainya pada usia remaja.

Rogeberg menciptakan model matematika guna melihat dampak nyata ganja terhadap IQ dengan faktor-faktor sosial-ekonomi. Dia menjelaskan tak berarti ganja tidak berbahaya dan bisa digunakan sembarangan. Menurut dia, tim Duke University harus menganalisis lebih menyeluruh guna membuktikan hanya penggunaan ganja-bukan faktor lainnya-sebagai penyebab menurunnya IQ.

Tim Duke University, menurut Rogeberg, harus menguji apakah penggunaan ganja mengubah lintasan IQ individu sejak usia 7 tahun dan seterusnya. Peneliti juga harus melihat dampak kumulatif dari berbagai faktor, seperti kehidupan di dalam rumah atau tingkat pendidikan. "Mungkin totalitas faktor dapat menjelaskan sebagian besar dari efek yang mereka temukan," katanya.

Tim Duke University menanggapi keberatan Rogeberg. Mereka menganalisis dan menemukan bahwa IQ secara keseluruhan tetap stabil. Mereka juga memasukkan anak-anak dari keluarga kelas menengah dan menghilangkan efek dari status sosial-ekonomi.

Simak hasil riset menarik lainnya tentang efek ganja hanya di kanal Tekno Tempo.co.

PROCEEDING OF NATIONAL ACADEMY OF SCIENCES | LIVE SCIENCE

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus