Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Film

Berita Tempo Plus

Di Balik 2014

Sebuah film tentang keluarga, pemilu presiden, pembunuhan, laga, cinta remaja, dan seterusnya. Penuh sesak dan tidak fokus.

23 Februari 2015 | 00.00 WIB

Di Balik 2014
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

2014
Sutradara: Rahabi Mandra dan Hanung Bramantyo
Skenario: Rahabi Mandra dan Ben Sihombing
Pemain: Ray Sahetapy, Donny Damara, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Rizky Nazar, Maudy Ayunda
Produksi: Dapur Film dan Mahaka Pictures

Film ini diberi anak judul Siapa di Atas Presiden. Sebuah kalimat yang mengirim suasana konspirasi politik. Tapi Hanung Bramantyo, salah satu sutradara film ini, mengatakan "ini adalah film keluarga".

Baiklah. Mungkin genre atau label itu tidak penting lagi pada abad ini. Yang penting, apakah itu film drama, komedi, thriller, laga, horor, sejarah, dan politik. Film 2014 dimulai dengan berbagai kliping berita kampanye pemilihan umum presiden; para calon presiden, suara berbagai penyiar berita. Para calon presiden adalah Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy), Faisal Abdul Hamid (disingkat menjadi "Faham"), dan Syamsul Triadi (Akri Patrio). Bagas adalah perwujudan Joko Widodo yang ganteng. Paling tidak, hanya pada 10 menit pertama karena dia mengenakan kemeja kotak-kotak atau kemeja putih dan blusukan ke pasar-pasar tradisional dan terlihat tulus setiap kali mengkampanyekan pemerintahan yang bersih dari korupsi. Tapi, setelah itu, segala atribut tokoh nyata hilang.

Film ini ternyata bukan tentang riuh-rendah pemilu presiden tahun lalu. Protagonis film ini adalah sepasang remaja: Ricky (Rizky Nazar), putra sulung capres Bagas Notolegowo, dan Laras (Maudy Ayunda). Persoalan dimulai karena sang ayah dijebak dalam sebuah peristiwa pembunuhan. Bagas ditahan, sementara kedua capres lain bisa berkampanye. Seperti plot film Hollywood, inilah momen si remaja mengalami "pencerahan". Dia mencoba membantu ayahnya dengan menyewa seorang pengacara idealis, Khrisna Dorojantun (Donny Damara), yang mempunyai putri si cantik Laras (Maudy Ayunda). Maka, di antara riuh-rendah kampanye, ternyata film ini diabdikan kepada plot "detektif amatir" remaja duo Ricky dan Laras yang masuk ke tempat kejadian, kejar-mengejar, dan bahkan mencuri USB milik seorang pembunuh bayaran yang misterius, Satria (Rio Dewanto).

Hasilnya, film ini merupakan drama keluarga dicampur politik pemilu dicampur adegan laga ala The Raid plus roman-romanan remaja. Begitu banyak yang dijejalkan dalam film ini sehingga kita tak melihat perkembangan plot yang meyakinkan dan kita juga tak kunjung merasa tertarik pada karakter-karakter dalam film. Semua serba tanggung dan serba permukaan.

Ketika plot sudah memasuki "area detektif-detektifan", Ricky menemukan sebuah USB milik Satrio, si pembunuh bayaran. Isi USB itu adalah daftar yang ditulis terang-terangan rencana kelompok "jahat": pertama, bunuh BN (maksudnya Bagas Notolegowo); kedua, bubarkan KPK, dan seterusnya. Daftar si pembunuh bayaran dalam USB ini bukan hanya lucu dan menggelikan. Daftar ini menunjukkan bagaimana penulis skenario dan sutradara tidak melakukan riset mendalam atau bahkan tidak membayangkan bahwa dokumen rahasia tidak bakal ditulis setelanjang itu, apalagi untuk dipegang tokoh seperti Satria, yang seharusnya berkelebat seperti bayang-bayang. Lantas, lebih lucu lagi, USB yang berisi pointer seperti makalah anak SMA itu lantas dicari-cari, dikejar-kejar seolah-olah USB bukan barang yang tidak bisa diduplikasi isinya.

Tentu, harus diakui, ada satu-dua momen yang sebetulnya bagus: saat salah satu tokoh penting tewas terbunuh, lantas itulah satu-satunya saat akting Bagas dan Laras yang meyakinkan: mencekam sekaligus mengharukan. Apalagi dengan kor yang mengiringi. Tapi itu hanya 10 menit yang sublim. Adegan perkelahian antara Satria dan Iptu Astri, yang diperankan oleh suami-istri Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan, ditampilkan dengan koreografi yang bagus. Seandainya sineas sekalian saja memfokuskan film ini sebagai film thriller dan laga, mungkin akan lebih menarik. Mungkin.

Tapi ambisi, keinginan banyak yang berdesak-desakan, yang dimasukkan secara berjejal-jejal ke dalam satu film, menjadikan 2014 melelahkan.

Leila S. Chudori

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus