Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Diponegoro adalah orang bodoh." Pernyataan itu disampaikan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch dan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Kolonel F.D. Cock dalam suratnya pada 26 Februari 1830. Mereka menyebut Diponegoro sebagai "either very stupid or a very dissembling person".
Inilah salah satu petilan surat tentang Diponegoro yang dikumpulkan oleh Dr Sadiah Boonstra, sejarawan dari Vrije Universiteit Amsterdam. Letnan Jenderal De Kock dalam catatan hariannya pada 1 April 1830 juga menulis keraguannya terhadap kepatutan perilaku Diponegoro setelah penangkapan.
Selama dua bulan Boonstra menyiapkan pameran "riset" yang digelar di Pusat kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, ini. Ia mengambil angle yang berbeda dengan pameran di Galeri Nasional, Jakarta, yang menekankan heroisme Diponegoro. Memang yang dibawanya bukan manuskrip asli, melainkan fotokopian dan kliping surat kabar di Belanda abad ke-19-20. Boonstra juga menampilkan beberapa petilan surat perwira Belanda yang menaruh simpati kepada Diponegoro.
Misalnya surat Pangeran Hendrik "Sang Pelaut", putra ketiga Raja Willem II. Dialah satu-satunya anggota Kerajaan Belanda yang mengunjungi Jawa, Banda, Ambon, dan Ternate. Hendrik bertemu dengan Diponegoro di Benteng Makassar pada 1837 dan menggambarkan sang Pangeran sebagai seseorang dengan wajah bersemangat. "Kita bisa melihat bagaimana api masih berkobar di dalam dirinya." Hendrik menyebut penangkapan Diponegoro sebagai aib bagi kehormatan Belanda.
Boonstra pun menampilkan repro lukisan Nicolaas Pieneman berjudul The Submission of Prince Diponegoro to General De Kock dan sketsa mantu Letnan Jenderal De Kock, Mayor V.H.A. Ritter de Steurs. Kedua repro itu diletakkan persis di samping pintu masuk tempat pameran. Dalam lukisan Pieneman, Jenderal De Kock diperlihatkan memerintahkan Diponegoro ditahan. Posisi De Kock terlihat lebih tinggi daripada Diponegoro. Para pengikut Diponegoro terlihat santai. Bendera Belanda berkibar megah di tengah alam yang indah dan damai. Pieneman, yang tak pernah bertemu dengan Diponegoro, hanya melukis berdasarkan informasi De Kock pada 1830.
Akan halnya sketsa De Steurs disajikan dalam repro berukuran tak lebih dari kertas kuarto. Sketsa ini menggambarkan Diponegoro pulang ke perkemahannya di Metesih, Magelang, pada 8 Maret 1830 seusai negosiasi terakhir. Dia digambarkan menunggang kuda dalam posisi kepala menunduk, sementara di depannya beberapa anak buahnya berkuda dan di belakangnya anggota pasukan berjalan kaki. Sketsa Steurs ini dibuat untuk memperlihatkan kejadian 20 hari sebelum penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830. Sketsa ini dibuat tiga tahun setelah Pieneman melukis, pada 1833. "De Kock atau De Steurs ingin memperlihatkan peran mereka dalam perang Jawa. Karier De Kock melesat karena Diponegoro itu," ujar Boonstra.
Boonstra mengakui, meski manuskrip hanya berupa repro dan fotokopian, pameran ini memang sengaja diselenggarakan untuk memperlihatkan apa yang kurang dari pameran di Galeri Nasional.
Dian Yuliastuti
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo