Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta -CEO GoJek Indonesia Nadiem Makarim mengatakan layanan uang elektronik GoPay semakin banyak dipilih pengguna. Sebanyak 55 persen transaksi di GoJek sudah menggunakan GoPay.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Ini karena banyak konsumen yang lebih nyaman pakai GoPay," kata dia dalam seminar di acara Hari Oeang di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 26 Oktober 2017. Dia menuturkan kunci transisi transaksi dari tunai ke non tunai adalah kenyamanan, bukan masalah biaya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Untuk menjamin kenyamanan, penyedia layanan pembayaran harus memberikan kemudahan isi ulang. Nadiem menuturkan penyedia jasa harus menggandeng banyak pihak, seperti perbankan dan lembaga switching.
Selain berguna bagi konsumen, kerja sama tersebut membantu pengemudi mengakses layanan perbankan. Pasalnya data keuangan mereka terekam dengan jelas sehingga bank bisa mempercayai pengemudi.
Dampak dari kerja sama tersebut adalah meningkatnya akses masyarakat terhadap perbankan. Saat ini baru 35 persen masyarakat Indonesia yang tercatat memiliki akun bank. Jangankan kartu kredit, penggunaan kartu debet saja masih belum banyak dimanfaatkan. Menurut Nadiem, masyarakat lebih senang menarik uang dengan kartu debet lalu menggunakan uang itu untuk bertransaksi.
Selain menyediakan fasilitas isi ulang melalui perbankan, Nadiem mengatakan pihaknya juga berinovasi dengan kemudahan lainnya. GoPay bisa diisi melalui pengemudi dengan hanya menyerahkan uang tunai. "Ini karena masih banyak orang Indonesia yang senang menggunakan uang tunai," ujarnya.
Nadiem mengatakan, kriteria suksesnya bisnis pembayaran semacam GoPay tak hanya itu. Penyedia jasa harus memastikan kemudahan pembayaran dan tingkat kesuksesan yang tinggi saat transaksi. Transaksi yang sering gagal tidak akan disukai pelanggan.