Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Rokok memang masih menjadi penyebab utama seseorang menderita kanker paru di Indonesia. Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Direktorat Pencegahan dan Pengendalian penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Niken Wastu Palupi mengatakan di Indonesia ada 25 orang yang terkena kanker paru-paru dari 100 ribu orang. "Dari 25 orang penderita itu, 23 per 100 ribu orang meninggal dunia. Kanker paru masih kanker tertinggi untuk pria," katanya dalam acara Dialog akan Penatalaksanaan Kanker Paru Terbaru Guna Meningkatkan Kepedulian masyarakat oleh AstraZeneca di Jakarta Selasa 6 Februari 2018. Baca: Ramalan Cinta di Februari: Akan Ada Cinta Baru untuk Libra
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kebanyakan para penderita penyakit kanker paru ini adalah perokok berat. Walau begitu rokok bukan satu-satunya faktor pemicu kanker paru. Kanker paru adalah tumor ganas paru yang berasal dari epitel saluran nafas.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Perwakilan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dan staf Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Elisna Syahruddin menjelaskan ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang terkena kanker paru. Menurut Elisna, masyarakat yang tinggal di kawasan dengan tingkat polusi indoor dan outdoor tinggi juga berpotensi besar menderita kanker paru. Baca: 8 Gejala Kanker Paru, Kelelahan Hingga Perubahan Suara
Polusi indoor biasanya berasal dari asap pembakaran rumah tangga. Bila suatu rumah tidak ada ventilasi, sehingga ketika memasak, asap masakan akan memenuhi ruangan maka asap itu bisa terhirup oleh penghuni rumah. "Ventilasi udara sangat penting di rumah. Selain untuk sirkulasi, juga agar matahari masuk," kata Elisna.
Elisna mengatakan ventilasi udara yang baik adalah ventilasi alam yang terhubung dengan sinar matahari dan udara di luar rumah. "Jangan seperti sekarang yang lebih sering rumah ditutup AC (Pendingin Udara)," katanya.
Polusi udara bisa berupa dari pembakaran polusi kendaraan bermotor. Selain polusi dari kendaraan bermotor, Elisna juga mengingatkan polusi udara yang akan terhirup oleh para pekerja di lingkungan pertambangan. Menurut Elisna, para pekerja ini juga rawan terkena kanker paru. "Mereka lebih sering berinteraksi dengan asbes. Ditambah, orang yang berumur lebih dari 40 tahun lebih rentan terkena kanker paru karena imunitas diri mereka menurun," katanya. Baca: Game Pukul Guru Anda, Psikolog : Waspadai Dampaknya
Orang yang pernah terjangkit penyakit tuberkulosis kronik juga berpotensi lebih tinggi terkena kanker paru. Walau begitu, rokok adalah pemicu terbesarnya. Kandungan dalam asap rokok ini bisa mengancam kondisi paru. Tidak hanya para perokok aktif yang akan merasakan dampak dari zat berbahaya itu, namun juga para perokok pasif. Para perokok pasif ini mungkin tidak merokok, namun mereka menghirup asap rokok sehingga merusak saluran pernafasan, serta paru-paru mereka sendiri.