Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya memiliki sejarah panjang, yak bisa dipisahkan dari peristiwa heroik perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo pada 1945.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berawal dari nama Hotel Oranje menjadi Hotel Yamato
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Hotel ini dibangun oleh pengusaha Armenia Lucas Martin Sarkies dan saudara-saudaranya pada 1910 dan menamai hotel tersebut sebagai Hotel Oranje. Lalu, tahun 1936, hotel ini direnovasi dengan desain art deco oleh Schoemaker, saat itulah menara kembar hotel dihilangkan dan ditambahkan bangunan art deco minimalis di depan hotel. Menara dibangun kembali di sisi kiri dan kanan, dan peristiwa bendera terjadi di sisi kiri.
Tahun 1942, Jepang mengambil alih hotel tersebut dan menamakannya Yamato Hoteru atau Hotel Yamato. Namun, pada 1945, Belanda mengambil alih hotel tersebut kembali dan keluarga Sarkies kembali ke hotel pada 1946.
Hotel oranye dicat oranye sesuai dengan namanya. Hotel ini mempunyai nilai sejarah yang masih terjaga hingga saat ini. Terdapat Ruang Merdeka no 33 dan Ruang Sarkies no 44. Ruang Merdeka dihuni oleh Residen Belanda pada saat peristiwa bendera terjadi. Kamar tersebut memiliki pintu rahasia ketika pemuda Surabaya memasuki hotel untuk merobek bendera. Kamar Sarkies merupakan ruang keluarga Sarkies, sang pendiri hotel, yang menginap saat mereka berkunjung ke Surabaya.
Awalnya, Hotel Oranje didirikan pada tahun 1910 dengan arsitektur art nouveau kolonial. Arsiteknya yakni J Afprey, seorang arsitek Belanda. Hotel lain yang dimiliki Sarkies di Asia adalah Raffles Hotel di Singapura, The Strand Hotel di Myanmar, The Eastern dan Oriental Hotel di Penang. Pada masa Perang Dunia II tahun 1942, Hotel Oranje digunakan oleh Jepang sebagai markas miliray dan kamp tahanan khusus perempuan dan anak-anak yang diangkut ke Jawa Tengah.
Pada 19 September 1945, Belanda mengibarkan bendera Belanda yang memicu kemarahan Arek Surabaya. Ratusan Arek Surabaya berbondong-bondong mendatangi hotel tersebut. Ada anak-anak muda yang mengenakan pakaian Jibakutai. Menurut pengakuan salah satu pemuda dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (1994), massa terus berbondong-bondong menuju hotel, dan tentara Jepang tetap tenang di halaman belakang hotel di pos mereka.
Soedirman datang dengan mobil hitamnya dan massa memberi jalan pada mobil tersebut. Ia masuk hotel bersama Sidik dan Hariyono dan bertemu dengan Ploegman dengan mengatakan bahwa ia adalah wakil Sekutu. Residen Soedirman meminta Ploegman menurunkan bendera Belanda. Ploegman menjawab Sekutu yang memenangkan perang dan Belanda salah satu anggotanya, sehingga kini Belanda berhak menguasai Hindia Timur. Ia menambahkan “Republik Indonesia? Kami tidak mengenalinya. ”
Ploegman masuk ke dalam dan muncul dengan pistol di tangannya. Ia mengancam Soedirman dan memarahinya. Sidik dan Hariyono menendang pistol dari tangan Ploegman dan ditembakkan ke arah atas. Hariyono membawa Residen Soedirman dan Sidik berkelahi dengan Ploegman dan membekapnya hingga tewas. Sidik tewas ketika seorang Belanda datang dan membunuhnya dengan golok.
Mendengar suara tembakan, Arek Suroboyo yang berada di luar hotel memanjat tembok hotel. Seorang pemuda bernama Kusno Wibowo meletakkan bendera Belanda dan meminta bendera merah putih kepada rekan-rekannya, tetapi tidak ada yang bisa memberinya bendera merah putih. Kusno dan Hariyono kemudian merobek bagian biru bendera Belanda menjadi merah putih dan mengibarkan bendera tersebut ke atas tiang. Pertempuran Surabaya pun berkobar pada 10 November 1945.
Sempat dikenal dengan nama Hotel Merdeka
Pada November 1945, seorang komandan Inggris dibunuh pada bulan Oktober dan invasi besar-besaran dilancarkan pada bulan berikutnya, dimulai pada tanggal 10 November.
Selama beberapa bulan berikutnya, ketika revolusi berlangsung di Surabaya, hotel tersebut dikenal dengan nama Hotel Merdeka atau Hotel Liberty. Pada tahun 1946 hotel ini kembali dikelola oleh keluarga Sarkies dan mengalami perubahan nama lagi menjadi Hotel LMS (setelah pendirinya Lucas Martin Sarkies).
Berganti Menjadi Hotel Majapahit
Dilansir dari laman Java is Beautiful, tahun 1969 sekelompok lokal membeli hotel tersebut dan nama hotel diubah menjadi Hotel Majapahit, diambil dari sebuah kerajaan kuat yang berkuasa hampir di seluruh Indonesia. Pada 1986, dalam waktu 2 tahun, hotel ini dipugar dan dibuka sebagai Hotel Mandarin Oriental Majapahit.
Hotel Majapahit masih berdiri dengan arsitektur asli Belanda hingga saat ini, dan banyak wisatawan serta penduduk lokal mengunjungi lokasi tersebut untuk mempelajari kekayaan sejarah nasional Indonesia.