Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kriminal

Berita Tempo Plus

Distribusi derita udin

Kakaknya tewas dalam duel, kemudian ia dipecat dari kerja. dua adiknya masih butuh biaya hidup dan kuliah. maka, 40 rumah dibakarnya.

7 Agustus 1993 | 00.00 WIB

Distribusi derita udin
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
SUATU siang pertengahan Juli lalu Zainuddin alias Udin pulang. Setiba di rumahnya di Kelurahan Pekapuran Laut, Banjarmasin, ia hendak menanak nasi. Saat itu ia lapar yang amat menggigit. Udin melihat tidak ada sebutir beras pun di dalam pendaringan, sedangkan di sakunya tidak ada sepeser uang. Belum lama ini ia dipecat sebagai juru parkir. Perut memang tidak bisa menunggu, kata orang. Udin yang berusia 32 tahun itu pun silap mata silap tangan. Ia membanting kompor yang sedang menyala. Di tengah kobaran api itu hatinya seakan makin gelap. Udin menyiramkan sisa minyak tanah dari jeriken. Lidah api segera menjilat rumah papan 4 m x 5 m itu. Tetangga berhamburan dan panik. Udin mengancam mereka yang hendak memadamkan sumber api. Matanya liar menyimpan dendam. Tangannya menggenggam sebilah pisau. Udin memburu siapa saja yang mendekat. Bahkan ia berusaha mencucuk seorang tetangga yang mencoba memadamkan api. ''Untung, dia berhasil menghindar,'' kata Hamdi, ketua RT setempat. Tidak terhindarkan lagi, bunga api kian marak. Udin menghilang. Belasan mobil pemadam kebakaran kewalahan menghadapi kobaran api yang sudah menggila. Apalagi lokasi kebakaran itu berada dalam gang, dan rumah-rumah pun rapat. Selain itu, sebagian rumah berdinding papan, beratap sirap, dan bahkan ada yang terbuat dari nipah yang empuk disantap api. Maka, dalam tempo tiga jam, lebih dari 40 rumah kemudian menjadi puing, dan 360 jiwa kehilangan tempat berteduh. Hingga pekan lalu, sebagian warga masih tidur di bawah tenda darurat, dan menerima santunan Rp 10.000 per hari. Malamnya Udin ditangkap. Kepada polisi, ia mengakui perbuatannya. Alasannya, ia kecewa karena diberhentikan dari tempat kerjanya sebagai juru parkir di Pasar Antasari. ''Saya juga kesal karena tetangga tak datang pada tahlilan 100 hari meninggalnya kakak saya,'' kata Udin yang hanya berpendidikan SD kelas III itu. Ternyata, di bagian ini, menurut ketua RT setempat dan dibenarkan adiknya, Mariani Udin hanya mengarang alasan. Memang Udin pernah berniat bikin tahlilan. Tapi tidak jadi karena tak ada biaya. ''Waktu itu Udin menghubungi beberapa keluarga untuk minta bantuan, tapi tak ada yang memberi,'' kata Mariani. Udin menjadi pemurung sejak kakaknya, Yadi Ongkok, meninggal tiga bulan lalu. ''Ia sering melamun,'' kata Mariani, yang jadi seorang mahasiswi. Yadi Ongkok semasa hidupnya adalah petugas keamanan Mitra Plaza. Ia tewas dalam duel senjata tajam dengan Taufik, yang sengaja ditantangnya karena bekas istrinya dipacari Taufik. Sejak itu Udin menjadi kepala keluarga. Ia harus menanggung hidup Mariani dan Mariati yang baru lulus SLA. Ibu mereka meninggal dua tahun silam, sedangkan uang pensiun almarhum ayahnya yang purnawirawan ABRI sebesar Rp 56.000 tentu tidak mencukupi. Sementara itu, Udin belum menemukan pekerjaan lain yang mungkin dapat menunjang kebutuhan mereka sekeluarga. Mengenai musibah barusan, beberapa warga dan familinya menduga Udin terganggu jiwanya. Apalagi, dua bulan lalu ia pernah jatuh dari sepeda motor. Jumat pekan lalu polisi mengirim Udin ke rumah sakit jiwa. Sumber di rumah sakit itu mengatakan Udin waras. ''Segala tingkah lakunya, dan bicaranya, baik-baik saja. Ia cuma mengalami tekanan berat,'' kata sumber ini. Sementara itu, pihak polisi tetap mengusut perkaranya. Polisi menemukan pakaian Udin terbungkus karung, yang dibenamkan dalam lumpur di sungai kecil, tak jauh dari lokasi kebakaran. ''Jadi, ada indikasi ia menyelamatkan pakaiannya, baru setelah itu membakar rumah,'' kata Kepala Satuan Reserse Kepolisian Resor Kota Banjarmasin, Anton Wahono, kepada Almin Hatta dari TEMPO. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, Udin terdiam. Kemudian ia menyesali diri karena telah mendistribusikan deritanya kepada orang lain. ''Sampaikan maaf saya kepada warga Pekapuran Laut,'' kata bujangan yang berperawakan kurus itu. Dalam suara pilu, ia menyatakan sedih. Selama ia di tahanan, baik adik maupun famili tak ada yang menjenguknya. Widi Yarmanto

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus