NGATEMI menyalakan api asmara dalam tiga jurus. Perempuan berusia 42 tahun yang menetap di Desa Ranugedang, di kaki Gunung Lamongan, Probolinggo, Jawa Timur itu agaknya rapi membagi cintanya. Pertama, untuk suaminya, Riyanto, 52 tahun. Kedua dan ketiga, gairah cintanya dibagi-bagi lagi kepada Saleh, 21 tahun, serta Munadi, 21 tahun dua tetangganya. ''Hampir sekali seminggu saya mengencaninya,'' kata Munadi. Tubuh perempuan yang sudah beranak tujuh itu masih bugar dan singset. Pinggangnya ramping, dan kulitnya kencang. Tapi sepandai-pandainya bermain api, nasib bekas kembang desa itu berakhir di rumahnya sendiri, Rabu dua pekan lalu. Ia tewas. Dan besoknya jenazahnya dikebumikan. Tewasnya Ngatemi membuat anaknya, Suherno, 16 tahun, melapor ke ayahnya. Katanya, tempo hari, ketika ayahnya bertugas mengutip sumbangan 17 Agustus dari warga, ia menemukan ibunya dikeloni Munadi. Mendengar keterangan dari anaknya itu, Riyanto, yang juga ketua RT setempat, melapor ke polisi. Munadi ditangkap. Munadi, yang punya istri berusia 17 tahun itu, mengaku telah tiga bulan mengencani Ngatemi. ''Yang menyuruh saya menggauli Ngatemi, ya, Riyanto,'' katanya kepada polisi. Riyanto membantah ''menjual'' istrinya kepada Munadi. ''Masak, saya tega menyodorkan istri ke orang lain,'' katanya. Walau tua dan sudah 30 tahun menikah dengan Ngatemi, menurut Riyanto, dirinya masih poten. Selain itu, ia juga tak tahu istrinya bermain cinta dengan lelaki lain. Munadi mengaku tiap selesai mengencani perempuan yang sudah punya satu cucu itu, ia memberi uang Rp 5.000 Rp 10.000. Kencannya dengan Ngatemi, menurut Munadi, sangat memuaskan. ''Dibandingkan dengan istri saya sendiri, ya, kalah,'' katanya. Hubungan cinta mereka terusik setelah muncul Saleh, awal Juli lalu. Terlebih ketika ia melihat wanita itu memasukkan Saleh ke kamarnya. Munadi cuma mendengar suara mesra mereka dari balik dinding tripleks. Kecemburuannya meledak saat Ngatemi ogah-ogahan meladeninya. Puncaknya setelah Ngatemi membenarkan meladeni Saleh. Munadi mencekik lehernya. ''Waktu itu mata Ngatemi melotot. Ia mengeluarkan suara seperti orang ngorok,'' ungkapnya. Agar cepat beres, Munadi menghantam kepala Ngatemi dengan palu seberat 0,5 kg. Bluk. Pengakuan Munadi itu klop de- ngan hasil visum yang menyebutkan korban tewas karena pernapasannya tersumbat. Selain itu, di bawah tengkuk korban juga ditemukan bekas pukulan benda tumpul. ''Saya benar-benar mata gelap,'' kata kuli pikul buah-buahan itu kepada K. Chandranegara dari TEMPO. Seperti menyimpan durian yang akhirnya berbau juga, kisah Ngatemi yang suka memacari pemuda itu dibenarkan seorang guru di Ranugedang yang belum berlistrik itu. Setahu dia, ada empat pemuda yang pernah dikencani Ngatemi. Ulah ini, konon, karena kalah ''pamor'' didiamkan suaminya. Menurut sebuah sumber, Ngatemi punya ilmu menundukkan suami. Hingga pekan lalu, polisi masih intensif memeriksa Munadi. Benarkah ia membunuh Ngatemi karena asmara yang terbelah, atau ada dorongan lain. Riyanto menduga, Munadi sengaja membunuh Ngatemi bukan karena cinta, tapi tahu baru saja menjual sapi. ''Mungkin ia hendak merampas uang istri saya. Karena nggak dikasih, lalu istri saya dibunuhnya,'' kata Riyanto. Kepala Polisi Resor Probolinggo, Letnan Kolonel H. Fadhillah, bertekad mengerem angka kriminalitas di daerahnya, antara lain melalui penyuluhan. ''Kami tidak ingin kasus seperti Munadi ini terjadi lagi,'' katanya. WY
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini