Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Sokong Pertumbuhan Industri Kreatif, Ini Strategi Kemenparekraf

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengungkapkan tiga strategi untuk mendukung pertumbuhan industri kreatif.

20 November 2019 | 17.51 WIB

Pengunjung tengah melihat salah satu stan kerajunan pada pameran CRAFINA di Jakarta Convention Center, Rabu, 16 Oktober 2019. Pameran produk industri kreatif Crafina 2019 menghadirkan  produk rancangan para desainer mancanegara yang tergabung dalam Indonesia Modest Fashion Week (IMFW). Tempo/Tony Hartawan
Perbesar
Pengunjung tengah melihat salah satu stan kerajunan pada pameran CRAFINA di Jakarta Convention Center, Rabu, 16 Oktober 2019. Pameran produk industri kreatif Crafina 2019 menghadirkan produk rancangan para desainer mancanegara yang tergabung dalam Indonesia Modest Fashion Week (IMFW). Tempo/Tony Hartawan

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengungkapkan tiga strategi akan terus dilakukan guna mendukung pertumbuhan industrii kreatif, termasuk startup atau perusahaan rintisan. Ketiga titik fokus tersebut adalah sumber daya manusia (SDM) yang unggul, akses modal dan industri kreatif substitusi impor.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Deputi Infrastruktur dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Hari Sungkari mengatakan untuk bisa bersaing dan menciptakan produk unggul, pertama-tama diperlukan SDM yang unggul terlebih dahulu. Untuk menciptakan SDM yang unggul, maka diperlukan manajemen, mentoring dan pelatihan serta dukungan ekosistem yang teruji.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Karena itu kami mendukung kegiatan yang memberikan wadah bagi para wirausahawan atau entrepreneur untuk berkonsultasi langsung dengan para mentor terkait dunia usaha, termasuk persoalan teknis yang sering dihadapi," kata Hari dalam acara Scale Up Asia 2019: Turning Point di Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu 20 November 2019.

Kemudian yang kedua, adalah pemberian akses pemodalan yang sesuai dengan karakter industri. Menurut Hari, saat ini pemerintah tengah mewacanakan penggunaan aset kekayaan intelektual sebagai salah satu kolateral dalam penilaian pemberian kredit bagi perbankan.

Hari menilai langkah ini diharapkan mempermudah akses modal bagi industri kreatif termasuk perusahaan rintisan atau start up yang tengah tumbuh. Apalagi, kebanyakan dari startup tersebut sebagian besar tak memiliki aset berwujud atau fix income.

Adapun, koleteral merupakan salah satu dari 5 indikator yang dinilai oleh perbankan sebelum mereka memberikan kredit bagi sebuah usaha. Namun, bagi perusahaan start up, hal ini sulit untuk dipenuhi akibat ukuran kolateral yang diterapkan perbankan berbeda dengan yang dimiliki oleh perusahaan rintisan.

"Ini adalah langkah kami untuk mulai memfasilitasi startup dari hulu hingga ke hilir. Harapannya, nanti kekayaan intelektual bisa masuk sebagai sebagai bagian dari kolateral untuk pemberian pemodalan atau kredit," kata Hari.

Kemudian yang ketiga, adalah mendorong adanya produk dari industri ekonomi kreatif yang mampu menjadi produk bagian dari substitusi impor. Langkah ini juga dinilai strategis di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu selain dari sisi pemarasan produk untuk pasar ekspor.

Hari berharap lewat strategi ini, pemerintah bisa menjaga laju pertumbuhan ekonomi sejalan dengan potensi ekonomi digital yang nilainya mencapai US$ 130 miliar. Lewat strategi ini pemerintah juga berharap industri kreatif dan ekonomi digital bisa menjadi ujung tombak pemasaran produk domestik, khususnya mengenai ekonomi kreatif.

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus