Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tiga pendaki meninggal dunia setelah mengibarkan bendera merah putih pada HUT ke-76 Republik Indonesia di puncak Gunung Bawakaraeng, Makassar, Sulawesi Selatan. Ketiganya diduga tewas akibat terkena hiportemia karena cuaca buruk ketika hendak turun gunung.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Hiportemia merupakan kejadian yang cukup sering dialami oleh pendaki gunung, terlebih ketika cuaca buruk. Hiportemia adalah kejadian di mana suhu tubuh seseorang menurun drastis hingga di bawah 35 derajat Celcius.
Udara gunung yang dingin merupakan salah satu pemicu terjadinya hiportemia pada seseorang. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diketahui pendaki agar tidak terkena hiportemia.
Berikut ini adalah lima tips mencegah hiportemia ketika mendaki gunung:
Pastikan kondisi tubuh fit
Jika tubuh sedang tidak fit, misalnya sedang demam atau flu, lebih baik batalkan rencana mendaki gunung. Sebab, orang yang sedang sakit akan lebih mudah kedinginan, meski berada di suhu normal.
Udara gunung yang dingin tentu akan membuat orang yang tidak fit menjadi semakin kedinginan. Risiko mengalami hiportemia pun semakin meningkat apabila pendaki sedang tidak fit.
Persiapkan jaket dan perlengkapan memadai
Salah satu perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah jaket. Tentunya bukan jaket biasa, melainkan jaket gunung. Sebab, udara di gunung lebih dingin sehingga membutuhkan jaket gunung dengan bahan yang memang dirancang untuk mengatasi udara dingin.
Selain jaket, siapkan juga perlengkapan seperti kantong tidur atau tenda jika berkemah. Pastikan perlengkapan tersebut dalam kondisi baik, misalnya tidak berlubang atau sobek sehingga bisa maksimal mencegah udara dingin masuk.
Bawa baju ganti untuk tidur
Pakaian yang dikenakan saat mendaki gunung juga harus selalu kering, khususnya saat tidur jika berkemah. Memang saat berjalan, baju basah tidak berpengaruh karena tubuh terus bergerak sehingga tubuh menghasilkan panas.
Namun ketika tidur, tubuh berhenti bergerak sehingga suhunya akan turun secara perlahan. Saat itulah efek pakaian basah akan mulai terasa. Udara dingin di malam hari akan semakin membuat tubuh kedinginan.
Oleh karena itu, alangkah lebih baik untuk mengganti pakaian basah dengan yang kering saat hendak tidur. Tindakan tersebut akan mengurangi rasa dingin di tubuh sehingga mengurangi risiko terkena hiportemia.
Bawa logistik dan makanan yang cukup
Hiportemia lebih berisiko dialami oleh pendaki yang sedang lapar. Hal itu bisa diatasi dengan cukup makan sehingga tubuh bisa menghangatkan diri dari dalam.
Selain itu, bawa logistik yang bergizi agar suhu tubuh senantiasa tetap hangat. Bawa pula makanan atau minuman untuk menghangatkan tubuh seperti wedang jahe instan agar terhindar dari hiportemia.
M. RIZQI AKBAR
Baca juga: