Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendidikan

Kemendikdasmen: Tingkat Pengangguran SMK Tinggi karena Kualitas Pendidikan Belum Merata

Kemendikdasmen menilai tingginya angka lulusan SMK yang menggangur disebabkan oleh kualitas pendidikan yang belum merata.

17 Desember 2024 | 14.42 WIB

Sejumlah pencari kerja antre untuk masuk ke dalam area Pameran Bursa Kerja di Thamrin City, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2024. Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Kota Administrasi Jakarta Pusat menggelar bursa kerja yang diikuti 40 perusahaan nasional dengan 1.200 lowongan pekerjaan itu bertujuan untuk untuk mengurangi angka pengangguran di wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan
Perbesar
Sejumlah pencari kerja antre untuk masuk ke dalam area Pameran Bursa Kerja di Thamrin City, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2024. Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Kota Administrasi Jakarta Pusat menggelar bursa kerja yang diikuti 40 perusahaan nasional dengan 1.200 lowongan pekerjaan itu bertujuan untuk untuk mengurangi angka pengangguran di wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Tatang Muttaqin, mengatakan masih banyak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang belum terserap ke dalam pasar tenaga kerja.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Masih ada banyak lulusan yang belum terserap. Ini memang bagian penting dari bagaimana kita meningkatkan kualitas dari seluruh SMK,” ucap Tatang kepada awak media, Selasa, 17 Desember 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis 5 November 2024, tingkat pengangguran terbuka dari jenjang pendidikan SMK per Agustus 2024 sebesar 9,01 persen. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,03 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 9,31 persen.

Meski ada penurunan, jumlah pengangguran lulusan SMK lebih tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Adapun jumlah pengangguran lulusan SMA sebesar 7,05 persen; jumlah pengangguran lulusan diploma sebesar 4,83 persen; dan jumlah pengangguran lulusan sarjana sebesar 5,25 persen.

Tatang menilai tingginya jumlah pengangguran ini disebabkan oleh kualitas pendidikan SMK yang belum merata. Dari sekitar 14 ribu SMK di seluruh Indonesia, kata dia, sebagian besar SMK yang perlu ditingkatkan kualitasnya adalah sekolah swasta.

Dia juga mengatakan intervensi yang dilakukan Kemendikdasmen untuk meningkatkan kualitas SMK baru menjangkau sekitar 2.400 SMK. Untuk itu, kata Tatang, Kemendikdasmen berupaya untuk menjangkau lebih banyak SMK. “Ke depan kami akan memperluas jangkauannya, jadi bukan lagi hanya 2.400 tapi katakanlah bisa sampai 3.000 sampai 4.000,” ucap dia.

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan mengatakan akan mengoptimalisasi lulusan SMK agar cepat mendapatkan pekerjaan. Menurut Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, lembaganya sudah melakukan koordinasi dengan Kemendikdasmen untuk mewujudkan hal tersebut.

"Kebetulan dalam beberapa kesempatan kami sudah diskusi dengan Pak Mendikdasmen dan kami sudah sepakat kita akan melakukan nanti sinkronisasi terhadap kurikulum SMK," ujar Yassierli di Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, pada Rabu, 30 Oktober 2024.

M. Raihan Muzzaki berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus