Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Antibodi masyarakat Indonesia terhadap Covid-19 meningkat.
Peningkatan kadar antibodi pada masyarakat yang disebutkan dalam survei disebabkan oleh faktor vaksinasi dan infeksi.
Hasil survei itu mengindikasikan bahwa pemberian vaksinasi booster itu sangat penting.
JAKARTA – Antibodi masyarakat Indonesia terhadap Covid-19 meningkat. Hasil survei serologi yang dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyebutkan sebanyak 98,5 persen populasi Indonesia telah memiliki antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. "Terjadi peningkatan proporsi penduduk yang mempunyai antibodi SARS-CoV-2 sebesar 95 persen selama tujuh bulan terakhir," ujar Iwan Ariawan, salah satu peneliti dari FKM UI, saat memaparkan laporan Hasil Survei Serologi Juli 2022 di Jakarta, Kamis, 11 Agustus 2022.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Hasil survei serologi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 menyatakan peningkatan antibodi yang mencapai kadar lebih dari 1.000 unit per mililiter diperoleh masyarakat karena menerima secara lengkap dosis vaksinasi dan mendapatkan vaksin booster. “Kami menganggap antibodi di atas 1.000 sudah masuk level tinggi,” kata Iwan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dia menjelaskan, peningkatan antibodi di atas angka 1.000 unit per mililiter juga menunjukkan bahwa kadar antibodi penduduk Indonesia meningkat empat kali lipat dari survei serologi nasional terakhir pada Desember 2021. Saat itu median kadar antibodi masyarakat masih berada di angka 444 unit per mililiter. Meskipun jumlah antibodi meningkat, bukan berarti masyarakat terbebas dari Covid-19. Menurut dia, antibodi bisa melindungi masyarakat dari dampak buruk virus corona.
Survei serologi SARS-CoV-2 telah dua kali dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Tim Pandemi FKM UI. Survei tingkat nasional dilakukan pada Desember 2021 dan tingkat Jawa-Bali pada Maret 2022. Keduanya sama-sama mengambil data perkembangan kepemilikan antibodi masyarakat. Pada Juli 2022, survei serologi ini kembali dilaksanakan untuk memantau perkembangan antibodi dari responden survei sejak Desember 2021. Tim survei mengunjungi 20.501 sampel yang tersebar di 100 lokasi di sejumlah kabupaten/kota dengan metode kuesioner dan pengambilan darah vena.
Peningkatan kadar antibodi pada masyarakat yang disebutkan dalam survei disebabkan oleh faktor vaksinasi dan infeksi. Tim Pandemi FKM UI tidak memungkiri bahwa bisa saja perolehan antibodi pada masyarakat itu akibat dari terjangkitnya seseorang oleh virus SARS-CoV-2. "Jadi, peningkatan antibodi ini karena adanya dua faktor ini yang kami tidak tahu mana yang lebih superior,” ujar anggota Tim Pandemi FKM UI, Muhammad N. Farid.
Dari survei tersebut, sebanyak 80 persen masyarakat telah memperoleh vaksinasi dosis lengkap dan 22,6 persen di antaranya sudah menjalani vaksinasi booster. Pada Desember 2021, jumlah masyarakat Indonesia yang belum divaksin sama sekali adalah 30 persen, angka ini turun menjadi 18,1 persen pada Juli 2022. Selanjutnya, untuk vaksinasi dosis pertama juga menurun dari 19 persen ke 11,6 persen. Menurut Farid, hal ini terjadi karena sebagian masyarakat mungkin telah divaksin dosis kedua atau menerima vaksin booster. Meningkatnya angka masyarakat yang menerima vaksin booster akan memantik kadar antibodi di masyarakat secara keseluruhan.
Dalam kesempatan yang sama, ahli epidemiologi dari FKM UI, Pandu Riono, mengatakan pemberian vaksinasi booster Covid-19 atau dosis ketiga menjadi penyebab meningkatnya antibodi terhadap Covid-19. Menurut dia, hasil survei itu mengindikasikan bahwa pemberian vaksin booster itu sangat penting.
Meski begitu, hingga kini cakupan vaksinasi booster pertama atau vaksinasi dosis ketiga baru sebesar 28 persen. Angka tersebut masih jauh dari target yang diinginkan, yakni 50 persen. Pandu meminta target cakupan vaksinasi dosis ketiga dituntaskan lebih dulu, baru kemudian melanjutkan vaksinasi booster kedua untuk masyarakat umum. "Jangan pikirkan dulu vaksinasi booster yang kedua, kita tuntaskan dulu booster pertama," tutur Pandu.
Tim Pandemi FKM UI menyatakan vaksinasi booster kedua dirasa belum menjadi prioritas, kecuali untuk tenaga kesehatan. Pandu menyatakan tenaga kesehatan sudah mulai menjalani vaksinasi booster kedua atau vaksin dosis keempat. Karena ada peningkatan angka kasus dengan masuknya varian baru Covid-19, tim menilai prioritas diberikan kepada mereka yang memiliki risiko tinggi, terutama nakes. Pandu menegaskan bahwa bukan berarti masyarakat atau pekerja profesi lainnya tidak penting. Namun, setelah melihat banyaknya tenaga kesehatan yang wafat, ada kekhawatiran tersendiri akan kehilangan nakes.
FIRYAAL TSAABITAH (MAGANG)
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo