Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Obituari

Berita Tempo Plus

Perginya pelawak yang halus dan serius

Sejak awal, s. bagyo bercita-cita menjadi pelawak. setelah sukses, ia bersiap menjadi petani, khawatir lawakannya tidak laku. ''lawakan itu butuh teori,'' katanya.

7 Agustus 1993 | 00.00 WIB

Perginya pelawak yang halus dan serius
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
DUA tahun lalu, Pelawak S. Bagyo berkata, ''Saya akan bertani kalau nanti lawakan saya sudah tidak laku lagi.'' Ia serius. Ia sudah menyiapkan tanah seluas lima hektare di daerah kelahirannya, Purwokerto. Namun, takdir menghendaki lain. Bagyo tak sempat hidup sebagai petani. Ia tetap pelawak sampai hidupnya berakhir. Kamis pekan lalu, ketika lawakannya masih laku dan ditonton jutaan pemirsa TPI, Bagyo meninggal dunia akibat serangan kanker darah yang sudah mengganas di tubuhnya. Pada usia 60 tahun, Bagyo tak kekeringan lahan walau bermunculan pelawak muda yang menjual kekonyolan dan seks. Bagyo sebenarnya bukan pelawak anti-slap-stick. Ia pelawak dengan cita-cita dunia lawak yang halus dan serius walau seperti diakuinya ia juga tak bisa lepas dari humor slap- stick. Menurut Bagyo, seperti ditulisnya sendiri di Kompas, Januari 1988, lawakan tak hanya membanyol sembarangan, tapi juga membutuhkan teori. Soalnya, pelawak harus mampu menganalisa penonton di suatu daerah maupun jenis dan usia penonton yang harus dihibur. ''Menghibur di kelab malam tentu berbeda dengan di depan anak sekolah. Melucu di depan ibu-ibu jangan porno, jangan kasar,'' tulis Bagyo. Dan Bagyo konsisten. Ia tahu bahwa lawakan di televisi ditonton oleh keluarga, sehingga ia tak akan menyelipkan lelucon seksual. Toh orang tetap tertawa. Semua orang masih tertawa jika ingat lagu Bengawan So ia memelesetkan melodi Bengawan Solo atau ketika ia membentak galak Diran yang justru sedang menagih utang. Menurut Darto Helm, ada tiga unsur yang selalu mereka rangkum setiap kali melawak. Yang pertama adalah unsur menghibur untuk membuat penonton senang dan tertawa. Kedua, informatif, menjelaskan suatu masalah atau program Pemerintah kepada masyarakat. Dan ketiga adalah mendidik. ''Jadi, tak hanya sekadar melucu. Kalau mau melucu, bicara dengan aksen Betawi kental juga bikin ketawa. Itu yang Mas Bagyo tidak suka dari pelawak-pelawak muda,'' kata Darto. Resep itulah yang membuat Bagyo dkk. tak pernah sepi dari tawaran manggung. Pada zaman gencarnya kampanye pembangunan, Bagyo berperan sebagai pelawak dan sekaligus komunikator andal. Di tengah lawakannya, ia menyelipkan tema tentang KB, wajib belajar, atau pesan lain tanpa terasa dipaksakan dan tanpa harus mengorbankan lawakannya. Catatan lain dari lawakan Bagyo adalah penyuguhan suatu alur cerita yang tetap memberi ruang pada kebebasan individu. ''Itu perbedaan generasi Bagyo dan kami. Bagyo bisa dibilang aliran ketoprak Mataram yang punya alur cerita, sedangkan kami menyuguhkan komedi situasi,'' kata Dedy Gumilar atau Miing dari kelompok Bagito. Walau berbeda aliran, Miing tak bisa memungkiri Bagyo sebagai salah satu pelawak anutan. ''Bagyo mampu berkomunikasi dengan penonton. Ini perlu dipelajari pelawak muda,'' kata Miing. Dan selama hampir 40 tahun, Bagyo berhasil membuktikan bahwa profesi pelawak bisa digeluti seperti profesi lain yang jadi sumber nafkah sehari-hari. Bagyo mampu membesarkan 11 anaknya yang paling tua dokter tamatan UKI dan meninggalkan warisan berupa dua rumah, di Cimanggis dan Kebon Jeruk, dua kapling tanah, di Pondok Gede dan Bumi Jaya, serta beberapa buah mobil. Itu adalah hasil perjalanan panjangnya. Mulai melucu secara sembunyi-sembunyi dalam sebuah sandiwara di kampungnya, Purwokerto, Bagyo akhirnya mendapat izin ayahnya, seorang asisten wedana, untuk menjadi pelawak. Berbeda dengan Kasino dan Miing, yang awalnya melawak sebagai permainan, Bagyo memang sejak awal memilih jadi pelawak. Di Yogyakarta, ketika kuliah di Fakultas Hukum UGM, ia menang dalam hampir semua lomba lawak. Karena sudah memutuskan untuk jadi pelawak, Bagyo meninggalkan UGM dan membentuk kelompok EBI bersama Eddy Sud dan Iskak. Kelompok ini sukses, sampai diboyong Usmar Ismail ke Jakarta untuk ikut film Gaya Remaja (1957). Beberapa kali kelompok yang ia bentuk bubar karena anggotanya, seperti Eddy Sud, Iskak, Atmonadi, dan Ateng, dibajak oleh Bing Slamet. Waktu itu wajar kalau pelawak muda lebih memilih bergabung dengan Bing Slamet daripada ikut Bagyo. Kalau ikut Bagyo, mereka cuma dibayar Rp 100 sampai Rp 200. Baru pada tahun 1970, setelah bertemu dengan Sol Saleh dan Diran, Bagyo punya kelompok tetap, yang diperkuat oleh Darto Helm tahun 1973. Sampai Bagyo meninggal, kelompok itu sebenarnya masih bertahan walau tak utuh lagi. Tahun 1981, Sol Saleh keluar karena mendirikan kelompok baru. Bagyo bersama Diran dan Darto bertahan. Lantas, tahun 1991, ketika Diran terserang komplikasi beberapa penyakit sehingga tak ikut berpentas lagi, duet Bagyo dan Darto terus jalan. ''Hasilnya kami bagi tiga. Gaji saya sama dengan gaji Diran. Setelah ada pengganti Diran, baru gaji Diran dibagi dua dengan penggantinya,'' kata Darto. Bahwa kelompoknya bisa bertahan, itu jelas karena kepemimpinan Bagyo yang lembut dan jujur. Ia menganggap Diran, Darto, dan Saleh seperti anak-anaknya, dari menentukan honor, membimbing kemampuan melawak, sampai memeriksa buku Tabanas. Walau tak ada aturan pasti dalam pembagian honor, ternyata soal honor tak pernah mengganjal kelompok Bagyo. Sampai akhir hayatnya, Bagyo dikenang banyak orang sebagai pelawak. Tapi mungkin ia bisa disebut pelawak plus. Tahun 1982 ia main dalam film Sang Guru dan mendapat pujian untuk peran sebagai seorang guru yang jujur. Pernah pula ia mengumpulkan enam kelompok lawak untuk main bersama dalam naskah cerita yang ia tulis sendiri. Masih ada lagi ketoprak Suryo Budoyo, yang ia dirikan untuk pentas ketoprak berbahasa Indonesia. Dunia kesenian Indonesia bukan cuma dunia lawak kehilangan orang yang berdedikasi. Liston P. Siregar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus