Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO,CO. Jakarta - Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan menemukan ikan Dori (Patin) beracun yang dijual di beberapa ritel di Jakarta. Patin yang diduga berasal dari luar negeri tersebut berbahaya, sebab mengandung zat tripolyphospate yang melebihi batas aman konsumsi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Itu (tripolyphospate) adalah bahan pemutih. Kalo kebanyakan pemutih usus kita juga jadi putih," kata Kepala BKIPM, Rina di kantornya, Senin, 9 Oktober 2017.
Simak: Susi Pudjiastuti Klaim Stok Ikan Naik, Impor Turun
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
BKIPM menemukan ikan berbahaya itu saat melakukan operasi bersama Bareskrim Polri pada 26-28 April 2017. Berdasarkan laporan hasil uji Laboratorium PT Saraswati Indo Genetech, kandungan trypoliphospate pada sampel Patin hasil operasi bersama tersebut mencapai 7.423,18 ppm dan 8.251,26 ppm. Sedangkan batas maksimum pada produk perikanan adalah 2000 mg/kg.
Rina mengatakan, pemerintah tidak pernah mengeluarkan izin impor ikan Patin. Sehingga, kata dia, Patin tersebut masuk secara ilegal.
Kepastian mengenai asal muasal Patin tersebut didapatkan melalui uji laboratorium Balai Uji Standar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BUSKIPM), September 2017.
Hasil uji menunjukan kemiripan DNA hingga 98-100 persen antara ikan Patin hasil operasi bersama dengan sampel ikan Patin impor milik BUSKIPM.
Rina mengatakan, saat ini lembaganya sedang mensosialisasikan kepada pihak ritel agar tidak lagi menjual ikan tersebut.
AJI NUGROHO